<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Hasanuddin &#187; COMGASTRA</title>
	<atom:link href="http://kosmik.web.id/category/part/comgastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kosmik.web.id</link>
	<description>weblog milik Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Hasanuddin</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 15:33:03 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Knight&#039;s Tale: King Of Europe 2</title>
		<link>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe-4/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 16:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[COMGASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[junaedi uko]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Pantai Cherbourg di pesisir barat Prancis adalah sebuah hamparan yang memanjang sejauh kurang lebih 9 km dari belahan utara ke arah selatan. Garis pantainya cukup lebar. Mungkin sekitar 60 meter jika diukur saat air pasang berada pada titik maksimalnya. Sedangkan pada saat air surut, lebar pantainya bisa mencapai jarak sekitar 130 meter.
Pasir di pantai itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pantai Cherbourg di pesisir barat Prancis adalah sebuah hamparan yang memanjang sejauh kurang lebih 9 km dari belahan utara ke arah selatan. Garis pantainya cukup lebar. Mungkin sekitar 60 meter jika diukur saat air pasang berada pada titik maksimalnya. Sedangkan pada saat air surut, lebar pantainya bisa mencapai jarak sekitar 130 meter.</p>
<p>Pasir di pantai itu begitu halus. Layaknya pasir pilihan yang telah melewati proses pengayaan terlebih dahulu. Warnanya pun putih jernih dan nyaris tak bernoda. Berpadu dengan warna laut biru disekitarnya, menjadikan pantai ini sungguh indah dan eksotik. Beberapa bukit kecil yang berbaris rapih dengan tingkat ketinggiannya yang tidak seragam menjadi pembatas alamiah antara pantai tersebut dengan dataran hijau yang akan ditemui setelahnya. Mungkin hanya burung-burung yang beruntung bisa menikmati lukisan Tuhan yang luar biasa ini dari angkasa sana. Sebuah dataran hijau dan lautan biru diantarai oleh garis berwarna putih dari pantai yang memanjang. Menakjubkan. . . . . . . ..</p>
<p>Tapi hari itu, ada pemandangan berbeda di Pantai Cherbourg. Saat pantainya tak lagi putih dan lautnya tak lagi biru. Sebuah warna yang tak biasa mendadak hadir menggantikannya. Warna merah, tiba-tiba menjadi dominan disatu bagian di pantai yang terbiasa dengan ketenangan itu. Birunya laut dan putihnya pasir pantai seakan tenggelam dalam ramainya warna merah yang hadir seragam. Dan merah itu, tak sepenuhnya diam. Itu adalah merah yang bergerak dan yang beraktifitas. Merah itu adalah warna pakaian kebesaran dari ribuan prajurit kastil Old Trafford yang saat itu tengah berlabuh di pantai Cherbourg ini, untuk membangun sebuah pijakan awal di benua Eropa.</p>
<p>Para prajurit dan ksatria ini berasal dari dataran Inggris Raya. Mereka datang lagi ke benua Eropa untuk kesekian kalinya sebagaimana saat ini, sebagai bangsa penakluk. Ada ancaman dan ada tantangan yang harus mereka tuntaskan. Bangsa Catalan dari Spanyol dianggap telah berlaku lancang dengan mencoba menancapkan dominasi mereka di Eropa. Kelancangan itu bahkan berlanjut hingga ke dataran Inggris saat mereka membumi hanguskan kastil Stamford Bridge dan mengirimkan pesan tantangan ke Kastil Old Trafford, sang pemegang tahta di Tanah Britania dan seluruh Eropa. Tantangan itu disambut tanpa keraguan. Dan ratusan kapal yang memuat Ksatria dan ribuan prajurit Old Trafford pun bergerak dalam satu armada tempur raksasa dari tanah Inggris ke daratan Eropa, untuk memenuhi tantangan bangsa Catalan itu.</p>
<p>Armada ini baru tiba kemarin sore di pantai barat Cherbourg. Setelah melewatkan malam untuk beristirahat, aktifitas raksasa pun terhampar pada pagi harinya. Operasi pendaratan ribuan prajurit dan penurunan ratusan ton logistik keperluan perang. Sungguh, bukan perkara mudah untuk mengorganisir kegiatan ini. Sebuah pendaratan yang melibatkan begitu banyaknya orang dan barang, di tengah minimnya lokasi pendaratan yang layak.</p>
<p>Di pantai Cherbourg itu sendiri sudah berdiri ribuan tenda peristirahatan sederhana. Tenda-tenda ini didirikan oleh ratusan pasukan perintis yang pertama kali mendarat di pantai. Aktifitas pendirian sudah dimulai sejak kemarin sore dan berlanjut hingga malam bahkan dinihari. Tepat saat matahari bersinar pagi harinya, ribuan tenda berwarna merah ini sudah terpancang di kawasan pantai dalam wilayah seluas kurang lebih 3,5 km persegi.</p>
<p>Ukuran tenda-tenda yang didirikan itu tidaklah sama. Tapi yang terbesar diantaranya terpancang tepat ditengah-tengah. Daerah sekeliling tenda besar itu juga relatif lebih berjarak dari tenda-tenda kecil lain yang mengintarinya. Di beberapa titik terlihat pasukan pengawal yang berdiri diam dan kaku. Mungkin inilah definisi lain dari kata siaga. Jumlahnya mereka, para penjaga itu, cukup banyak. Sekitar 30 sampai 40 orang yang berbadan tegap. Tenda itu sendiri didirikan menghadap ke arah lautan, tanpa pintu. Penutupnya hanya berupa kain panjang yang halusnya bukan main. Mungkin saja terbuat dari sutera. Pintu yang sangat mudah untuk disibak. Ada sebuah karpet merah sepanjang 10 meter yang menjulur dari dalam tenda itu ke arah luar. Jelaslah bahwa itu bukan tenda prajurit kebanyakan.</p>
<p>Dan memang, dari tenda itulah seluruh organisasi dari pendaratan ini diatur. Bahkan keseluruhan perang yang akan mereka jalani nantinya, dipikirkan ditenda ini. Di dalamnya, sang panglima perang sekaligus pemimpin tertinggi kastil Old Trafford, Sir Alex Ferguson bersama beberapa Ksatria-ksatria nya akan beristirahat.</p>
<p>Tapi saat itu, beberapa diantara ksatria itu tidak sedang berada di dalamnya. Mereka berada diluar, tengah mengamati proses pendaratan pasukan dan logistik dari sebuah menara kayu yang baru saja didirikan tadi malam. Menara itu bertinggi sekitar 10 meter. Keseluruhan tiang penyangganya berasal dari kayu. Tapi bukan kayu yang didapat dari daerah situ. Karena tidak ada kau sejenis itu di wilayah Cherbourg. Kayu itu memang sengaja dibawa dari daratan Inggris</p>
<p>Menara-menara semacam itu didirkan dalam jumlah yang cukup banyak. Ada yang terletak di tengah-tengah lautan tenda dan prajurit di pantai itu. Dan lainnya tersebar di garis terluar lokasi pendaratan. Fungsinya sudah jelas, sebagai menara pengintai dan pengawas. Beberapa diantaranya berdiri tepat diatas bukit yang membatasi antara dataran hijau dan kawasan pantai di semenanjung Cherbourg itu.</p>
<p>Untuk naik ke atas menara itu, harus melalui seutas tali serabut yang telah dibentuk dan dianyam sedemikian rupa menjadi semacam anak tangga.</p>
<p>Menara dimana tiga orang Ksatria Merah nan Agung tengah memantau itu, berlokasi tepat di tengah-tengah. Sekitar 40 meter dari tenda besar tempat mereka beristirahat. Dan diatas menara itu tidak hanya mereka saja. Ada juga seorang perwira logistik yang sedari tadi tak putus-putusnya memantau kegiatan pendaratan melalui teropong miliknya. Perwira itu bertubuh agak gempal. Usianya mungkin sudah separuh baya. Beberapa uban tampak menyala diatas kepalanya. Dari tampilan fisiknya, dia memang bukan tipe perwira lapangan yang turun bertarung. Namun dia lebih banyak berkutat pada urusan logistik dan manajemen kebutuhan para pasukan tempur. Seperti kali ini, dia terlihat sibuk mengatur operasi pendaratan pasukan dan penurunan logistik.</p>
<p>&#8220;Berapa lama lagi yang kita butuhkan menyelesaikan ini . .?&#8221; Tanya Fletcher, salah seorang anggota Ksatria Merah Old Trafford pada si Perwira tadi. Mata kedua orang yang baru membuka komunikasi itu memang tidak saling melihat, tapi terarah ke depan dimana aktifitas pendaratan raksasa tengah berlangsung.</p>
<p>Perwira yang ditanyai itu diam sejenak. Memincingkan matanya, seolah tengah memikirkan sesuatu dengan kerasnya dan mengkira-kira . . . . .. .</p>
<blockquote><p>&#8221; . . . . Hmmm, dengan kondisi pendaratan seperti sekarang ini, setidaknya kita perlu 3 hari&#8221;. Jawab perwira itu kemudian.</p></blockquote>
<p>Fletcher hanya mengangguk ringan mendengar jawaban itu. Matanya masih terus menatap aktifitas lautan merah manusia dipantai.</p>
<p>&#8221; Kenapa harus se-lama itu . . ?&#8221;. Cristiano, seorang Ksatria lain yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka, tiba-tiba menyeruak ke depan. Matanya menatap beku ke arah perwira logistik itu. Dahinya berkerut, seakan tak senang mendengar jawaban itu.</p>
<p>Yang ditanya, sekilas nampak keget. Namun dia tak lantas berbalik ke sosok yang sedang bertanya. Dia tak berani melihat ataupun beradu tatap dengan ksatria yang tengah memandanginya dengan mata tajam. Dia tahu ada terselip ketidaksenangan di mata anak muda itu. Dia kenal siapa ksatria itu, Cristiano. Nama yang sudah berkibar sebagai petarung tangguh. Dia nyaris memenangkan semua pertempuran yang diikutinya. Sayang, dia juga menyimpan sikap tempramen yang mudah meledak-ledak jika ambisi dan keinginannya tidak terpenuhi. Dia begitu mudah tersulut amarah. Semua orang tahu itu. Dan mereka memahaminya. Mungkin karena pengaruh usianya yang masih muda. Untunglah, sang perwira itu perlahan mulai bisa menguasai diri.</p>
<p>&#8220;lihat saja di sebelah sana . . .!!!!&#8221;. Perwira penanggung jawab itu menunjuk ke arah kiri mereka. Semua mata yang ada diatas menara pemantau itupun patuh memandang ke arah itu. Sebuah pelabuhan tua nampak tengah teronggok lusuh, dan kapal berukuran besar tengah bersandar di salah satu sisinya. Beberapa prajurit tengah menurunkan barang-barang dari atas kapal tersebut. Mereka terlihat hati-hati sekali. Berjalan dan bergerak pelan dan penuh perhitungan. Tidak segesit biasanya, sebagaimana yang pernah mereka lihat.</p>
<blockquote><p>&#8221; pelabuhan itu ternyata tidak sekokoh yang kita perhitungkan. Kayu-kayunya……..sebagian besar sudah rapuh. . . . . . . Semalam, sewaktu melakukan inspeksi, dua prajurit kita terperosok dan jatuh ke laut karena salah berpijak. Sangat beresiko jika kita melakukan pembongkaran barang besar-besaran disana. Bisa-bisa pelabuhan itu ambruk seketika&#8221;. Jawab si perwira tersebut. Kali ini dia sudah berani menatap balik ke wajah Cristiano.</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8221; Tapi . . . satu garnisun pasukan sudah kuperintahkan untuk membuat pelabuhan tambahan di sebelah utara sana&#8221;. Lanjutnya semabari memalingkan pandangannya ke arah yang lain, dimana nun jauh disana, beberapa prajurit terlihat tengah mengukur-ukur sesuatu di tepi pantai.</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8221; Pelabuhan baru itu, mungkin akan selesai tengah malam nanti. Dan besok baru bisa kita gunakan . . . . &#8220;. lanjut perwira tadi sambil menarik nafas panjang.</p>
<p>&#8220;Coba pikirkan cara lain. Bagaimana kalau . . . . . hmmm . . gunakan perahu-perahu itu untuk membantu menurukan logistik perang kita dari kapal-kapal pengangkut ke daratan &#8220;. Seloroh Cristiano kepada perwira itu.</p></blockquote>
<p>Matanya sempat singgah sebentar ke wajah Fletcher dan Ryan Giggs, sang komandan Legiun senior. Seolah ingin meminta dukungan dan persetujuan kedua orang itu atas saran yang barusan diajukannya. Tapi percuma, dia tidak mendapatkannya. Fletcer justru mengacuhkannya, sembari terus memandang lepas ke depan. Sementara Ryan, hanya tersenyum kecil sambil menunduk dan mengeleng-geleng kepalanya. Sedari tadi dia terlihat hanya sibuk membersihkan kukunya menggunakan sebuah pisau kecil dengan bersandar di salah satu sisi menara itu.</p>
<blockquote><p>&#8221; Tidak bisa . . resikonya sangat besar.&#8221; Jawab sang perwira sembari berbalik menuju ke sebuah meja kecil dibelakangnya. Dia lalu mengeluarkan peta kecil yang tergulung di pinggangnya dan membukanya diatas meja itu.</p>
<p>Kenapa ?. . resiko apa maksudmu . .?&#8221; Cecar Cristiano sambil terus menatap tajam ke arah perwira itu. Dia terlihat begitu geram.</p>
<p>&#8221; Barang-barang yang akan dibongkar nantinya . . . sebagian besar berupa drum-drum yang berisi bubuk mesiu. Sangat beresiko kalau harus diangkut dengan perahu-perahu kecil yang mudah goyah itu. . . . sedikit saja terkena air laut, mesiu-mesiu itu akan segera menjadi sampah . . . . . . . tak ada gunanya lagi.&#8221; Jawab si perwira.</p>
<p>&#8220;Lagi pula . . . . . ratusan perahu kecil itu saat ini dikosentrasikan penuh untuk menurunkan para prajurit ke daratan, karena . . . kapal pengangkut mereka harus segera kembali ke Southamton untuk menjemput armada ke-II yang akan segera menyusul kemari jika kondisi di tanah Inggris sudah memungkinkan &#8220;. Sambungnya.</p></blockquote>
<p>Dia kemudian menyibukkan diri dengan peta kecil yang sudah terhampar di depannya. Peta itu berupa formasi kapal-kapalnya secara keseluruhan dan titik-titik dimana kapal-kapal barangnya membuang jangkar. Sangat penting memang Peta semacam itu, untuk mengetahui dimana posisi kapal logistik ditengah ratusan kapal yang tengah terhampar di lautan.</p>
<p>Jawaban panjang dari si perwira itu cukup untuk menghentikan pertanyaan dari Cristiano. Namun dia masih terlihat gusar. Waktu pendaratan yang memakan waktu sampai 3 hari terasa lama sekali bagi dia. Seharusnya mereka sudah berada pada tahap persiapan pemberangkatan dalam 3 hari ke depan. Memulai sebuah perjalanan darat menuju Roma untuk menumpas ambisi bangsa Catalan disana. Sesuatu yang dia sudah tunggu-tunggu . . .</p>
<blockquote><p>&#8221; . . . dari awal saya belum paham, kenapa kita harus mendarat di pantai yang terpencil ini, dengan pelabuhannya yang sudah lapuk. Apa karena pemandanganya ? ……. Kita kan bukan datang untuk santai disini . . . !!!!!&#8221;. Cristiano memulai lagi celotehnya.</p>
<p>&#8221; Kenapa bukan di Calais, atau Le Havre atau di Brest sekalian . . . .?&#8221; saya tahu tempat-tempat itu. Mereka punya pelabuhan besar dan kokoh. Dan disana, kita pun tak perlu susah dan berlama-lama seperti saat ini.&#8221; lanjut Cristiano mengomel. Suaranya mulai meninggi. Tapi tidak jelas, siapa yang dia omeli.</p></blockquote>
<p>Ketiga orang yang bersamanya diatas menara itu seakan tak peduli. Mereka sibuk dengan dirinya masing-masing.</p>
<p>Tapi beberapa detik kemudian Ryan Giggs bangkit dari tempatnya bersandar dan berdiri tepat disamping Ksatria muda yang tengah kesal itu.</p>
<blockquote><p>&#8221; . . Sir Alex tentu saja paham semua keputusan yang diambilnya. Termasuk dengan pendaratan di Cherbourg ini. Jangan sekali-kali kau ragukan itu.&#8221; Ucap Ryan.</p>
<p>&#8221; Iya . . tapi kenapa harus disini . .?&#8221; Tanya Cristiano yang memang belum paham.</p>
<p>&#8221; . . . . . Bangsa Catalan . . . . . mereka penyebabnya. . . . . selama ini kita disibukkan dengan perlawanan orang-orang Liverpool di Tanah Inggris. Selama itu pula, bangsa catalan memanfaatkan kondisi itu untuk menaklukkan banyak kerajaan di tanah Prancis ini. Tidak hanya menaklukkan, . . . mereka juga menghasut kerajaan-kerajaan itu untuk memusuhi kita. . . . dan nampaknya, mereka berhasil.&#8221; Tutur Ryan Giggs.</p></blockquote>
<p>Cristiano hanya terdiam mendengarnya. Giggs pun melanjukan ceritanya. . . . .</p>
<blockquote><p>&#8221; . .dari informasi yang kita terima. Kerajaan Lyon dan Monaco sudah dibawah kendali bangsa Catalan. Begitu juga kerajaan Bastia. Mereka ini, sewaktu-waktu bisa menyerang kita. Dan jika mereka melakukan itu, persiapan kita ke Roma bisa berantakan . . . Di sini, di Cherbourg, adalah satu-satunya tempat yang jauh dari jangkauan ketiga kerajaan itu. . . . Lagipula, tempatnya juga cukup terpencil. Kedatangan kita tidak akan di ketahui oleh mereka. Kalaupun mereka nantinya tahu, . . .. pasti butuh waktu lama untuk itu. &#8220;</p></blockquote>
<p>Perlahan Cristian mengangguk pelan, tapi belum memberi respon apa-apa.</p>
<blockquote><p>&#8221; . . . . bayangkan kalau Sir Alex memutuskan untuk mendarat di pelabuhan-pelabuhan yang kau sebutkan tadi .. .! Resikonya besar. Mereka dengan mudah bisa mengetahui kedatangan kita, dan menyerang kita. . . . . . . . . Tapi disini, kita relatif aman &#8220;.</p></blockquote>
<p>Ryan Giggs masih menatap pada Cristiano. Keduanya lalu membisu. Cristiano sendiri tak mampu membalas tatapan itu. Respeknya pada sang Komandan legiun selalu memukul telak keangkuhannya. Terlebih, ada sedikit penyesalan menyeruak dari dalam lubuk hati. Yang marah-marah tanpa mengetahui alasan jelasnya.</p>
<p>Beberapa saat berselang, tali tangga disamping menara yang menjulur ke bawah itu bergerak. Seseorang nampaknya tengah naik ke menara itu.</p>
<p>Ya, benar saja . . . Seorang perwira menengah dengan jubah kebesarannya. Sesaat setelah berada di atas menara itu dia memberi hormat sembari melepas topi perang kebesarannya.</p>
<p>Ryan Giggs mengangguk, memberi kode bahwa dia sudah menerima penghormatan itu . . . . . .</p>
<blockquote><p>&#8220;Ada apa . .?&#8221; Tanya Giggs</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8221; Sir Alex meminta semua Ksatria untuk berkumpul di tenda. Ada berita penting yang ingin disampaikan . .&#8221; Jawab Perwira yang baru datang itu.</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;tentang apa . . ?&#8221; Tanya Fletcher yang sedari tadi diam.</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8221; Maaf . . Tuanku, saya tidak begitu paham. Yang pasti, tadi ada sepucuk surat dari Manchester, rumah kita. Surat itu di bawa oleh seekor merpati pos. Tentang isinya, . . . .. . saya tidak tahu. Tapi sekilas saya mendengar, Sir Alex mengucapkan kata . . Liverpool. Entah . . apa maksudnya. Tapi kemungkinan besar isinya tentang itu . . . . orang-orang Liverpool &#8220;.</p></blockquote>
<p>Mendengar penuturan itu, ketiga Ksatria old Trafford langsung tersontak. Mereka bertatapan satu sama lain. Wajah mereka langsung berubah serius, walau dipenuhi banyak tanda Tanya. Mereka secara serempak bergegas merapihkan jubah kebesaran mereka, menuju ke Tenda dimana Sir Alex tengah menunggu.</p>
<blockquote><p>Cristiano sendiri secara khusus sempat menepuk pundak perwira yang sempat membuatnya geram itu sambil tersenyum. . . &#8220;Selamat bertugas sobat . . &#8220;. Ucapnya lirih.</p></blockquote>
<p>Perwira gempal itu hanya mengagguk pelan sambil membalas tersenyum. Mereka bertiga pun berpamitan padanya, dan kemudian turun berurutan melalui tangga tali itu. Berjalan di atas pasir putih, menuju ke Tenda sang panglima</p>
<p>Di depan, Ryan Giggs masih diliputi ribuan keingin tahuan akan apa yang sebenarnya terjadi di Manchester, di kastil Old Trafford nun jauh di seberang sana yang beberapa hari lalu mereka tinggalkan. Dahinya mengernyit. Pikirannya melayang, sehingga tidak peduli lagi pada puluhan pasukan yang membungkuk hormat di sepanjang perjalanan yang dilaluinya. Dia acuh saja sambil sesekali berguman lirih . . . .</p>
<blockquote><p>&#8221; . . . . . orang-orang Liverpool itu .. . . . apalagi yang mereka lakukan kali ini . . .&#8221;</p></blockquote>
<p>Be . . . continued . . .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Knight&#039;s Tale; King Of Europe 2</title>
		<link>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe-2/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 19:52:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[COMGASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[junaedi uko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; . . Ibu, aku pulaaaang !!! &#8221; teriak Pierre sesampainya  di depan rumah. Setelah melepas sepatunya di depan pintu, dia langsung menerobos masuk hingga ke dapur dan menuangkan air ke dalam sebuah gelas.
&#8220;  . .kau terlambat pulang lagi hari ini. Sekarang apa alasanmu ?&#8221; Tanya ibunya sembari mengatur kayu api yang tengah terbakar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_279" class="wp-caption alignleft" style="width: 292px"><img class="size-full wp-image-279" title="img_6599" src="http://kosmik.web.id/wp-content/uploads/2009/05/img_6599.jpg" alt="img_6599" width="282" height="320" /><p class="wp-caption-text">Elzyan Yazid Muzadi</p></div>
<p>&#8221; . . Ibu, aku pulaaaang !!! &#8221; teriak Pierre sesampainya  di depan rumah. Setelah melepas sepatunya di depan pintu, dia langsung menerobos masuk hingga ke dapur dan menuangkan air ke dalam sebuah gelas.</p>
<p>&#8220;  . .kau terlambat pulang lagi hari ini. Sekarang apa alasanmu ?&#8221; Tanya ibunya sembari mengatur kayu api yang tengah terbakar di atas tungku dapur.  Peluh bercucuran di hampir setiap bagian wajahnya</p>
<p>Pieree kecil tak segera menjawab. Dia tengah sibuk menenggak segelas besar air putih dengan begitu bernafsu. Nampak sekali dia dalam keadaan haus yang amat sangat.  Glek . .glek .. glek . . .</p>
<p>&#8221; pasti kau singgah bermain-main lagi di ladang jagung milik pak Lauren ? &#8220;.</p>
<p>&#8220;tidak .  . .&#8221; jawab pierre sambil menyeka sisa air minum dipinggiran mulutnya.</p>
<p>&#8220;terus . .  kenapa kau baru datang se sore ini . . ?&#8221; lanjut sang Ibu bertanya.</p>
<p>&#8220;  . . . .  Usai belajar tadi, Pastur meminta kami untuk membantunya memotong semak-semak belakang Gereja.  Dan kami pun melakukannya. Apalagi dia sudah berjanji jika kami mau membantunya, dia akan mengajak kami ke kebun Apel hari sabtu nanti. &#8221; jawab Pieree sembari melepaskan tas kulit coklat  yang sedari tadi menggantung dibelakangnya.</p>
<p>&#8220;Hmmm . ..  ya . . sudah. Ibu kira kau pergi lagi ke tempat pak Lauren.  Sekarang  Cuci tangan, ibu akan menyiapkan makananmu.&#8221;</p>
<p>&#8221; Tak perlu bu. Perutku sudah kenyang, karena tadi kami juga sudah diberi makan siang di rumah Pastur. &#8221;</p>
<p>Sahut Pierre.</p>
<p>&#8220;Ngomong-ngomong, Ayah kemana, bu ?&#8221; sambungnya</p>
<p>&#8220;Ada disamping, dia sedang memperbaiki kereta kuda kita. Coba Temui dia !!. mungkin dia sedang membutuhkan bantuanmu . .&#8221;. jawab sang ibu sambil terus mengawasi masakannya diatas tungku.</p>
<p>Tanpa diulangi, Pierre langsung berlari keluar, menemui ayahnya yang memang tengah sibuk mengutak –atik as roda kereta kuda milik mereka.  Semalam, sewaktu baru pulang dari kota, kereta kuda itu secara tak sengaja terperosok ke dalam bekas galian batu, hingga salah satu as rodanya patah. Untunglah kejadian itu berlangsung hanya 50 meter menjelang rumah mereka.</p>
<p>&#8221; Hai ayah  !! . .  ada yang bisa kau bantu  .?&#8221; Tanya Pierre sembari membungkuk  di samping ayahnya yang saat itu tengah menyetel baut-baut pada roda bagian kanan kereta tersebut.</p>
<p>&#8221; Oh . .. kau. . .. .  Tak perlu.  Ayah sudah hampir menyelesaikannya&#8221; Jawab sang ayah sambil tersenyum kecil pada anak satu-satunya itu.</p>
<p>&#8220;hmm . .  tunggu. Ayah butuh bantuanmu . . . Tolong jemput pulang domba-domba kita. Hari sudah sore.  Kau tentu tidak ingin nasib domba-domba itu seperti yang dialami domba-domba milik keluarga Eric . . . habis di sergap Srigala.&#8221;</p>
<p>&#8221; Okey . . Tak masalah . .  &#8221; sahut Pierre dengan bersemangat.</p>
<p>Diapun langsung berdiri, bergegas menuju tempat dimana domba-domba itu berada. Tak lupa dia bersiul dulu, memanggil Bruno dan Bleki, dua ekor anjing penggembala milik keluarga itu yang memang sedari tadi seperti sudah menunggu panggilan tugas rutin dari majikannya.</p>
<p>Pierre dan keluarganya, adalah satu dari sedikit orang yang tinggal di desa itu, desa Chaenten. Desa Chaenten terletak di bagian pesisir barat dari wilayah Cherbourg, Prancis. Penduduk desanya masih sangat jarang. Rumah mereka pun  terpisah cukup jauh antara satu dengan  lainnya. Semua mereka umumnya berprofesi sebagai petani. Hanya sebagian kecil diantaranya yang  cukup  beruntung karena memiliki ternak seperti Domba, sebagaimana keluarga Pierre kecil.</p>
<p>Domba-domba milik keluarga Pierre ini, setiap paginya memang dibiarkan saja berkeliaran bebas di sebuah bukit kecil di pinggi laut, yang  berjarak sekitar 300 meter dari rumah mereka.  Bukit ini adalah salah satu tempat bermain  favorit Pierre. Tempatnya memang sangat indah. Terdiri dari padang rumput hijau dan beberapa pohon yang rindang. Dari atas bukit ini, pemandangannya sangat leluasa.. Langit biru berhias awan yang selalu indah setiap dipandang. Ada lautan yang membentang luas dibawah sana.  Serta semilir tiupan anginnya menyegarkan dan membawa jiwa pada tingkat ketenangan yang dalam. . . .amat dalam. Apalagi kalau datang pada sore hari, ada tambahan keindahan yang bisa dinikmati. Apalagi kalau bukan menyaksikan terbenamnya matahari di pelosok barat sana. Itulah mengapa, Pierre selalu antusias kalau diminta ayahnya menjemput pulang domba-domba milik mereka. Menyaksikan matahari terbenam dan tenggelam ditelan lautan.  Bagi dia, pemandangan itu tak pernah membosankan meski hampir tiap hari bias dilihatnya.</p>
<p>Dengan terengah-engah pierre kecil tiba ditempat itu. Bukit kecil tempat domba-dombanya bermain lepas.  Dua ekor anjing gembalanya langsung menggonggong riuh saat melihat kawanan Domba itu. Membuat domba-domba yang sebelumnya terberai di beberapa tempat itu, langsung berkumpul menjadi satu.</p>
<p>&#8220;satu, dua, tiga, empat, lima, enam . . .  .  tujuh . . pas &#8220;.  Pierre langsung mengabsen semua Dombanya. Dia tersenyum puas.  Jangan sampai ada yang kurang dan menjadi korban keganasan Srigala liar. Dan saat itu, semuanya lengkap.</p>
<p>Tapi Pierre kecil tak hendak langsung pulang. Dia ingin bermain-main dulu sejenak di bukit itu sambil menunggu matahari yang sebentar lagi tenggelam. Dia pun berjalan kecil menuju puncak bukit. Dari situ pandangan mata bisa lebih lapang ke arah lautan dimana matahari nanti akan tenggelam.</p>
<p>Dengan sedikit kelelahan, Pierre kecil akhirnya sampai juga ke puncak bukit itu. Saat memandang ke arah lautan, sontak dia terkejut. &#8220;Hah . .!!!&#8221;.  matanya terbelak. Napasnya seakan tersumbat. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang . . . .Tubuhnya seolah membatu tak mampu digerakkan untuk sesaat. Tapi, tak lama kemudian  dia berteriak keras: &#8221; Ayaaaaaahhhhhhh . . . . .&#8221;. dan langsung berlari sekencang-kencangnya menuruni bukit kecil itu kembali ke rumahnya. Dua ekor anjing gembalanya turut serta berlari mengikutinya dari belakang, meninggalkan kumpulan domba yang terlihat turut panik itu.</p>
<p>Sepanjang jalan itu, Pierre kecil tak henti berlari pada kecepatannya yang paling maksimal sembari berteriak-teriak memanggil ayahnya. Entah kekuatan dari mana yang membuat anak kecil ini mampu berlari secepat itu dengan begitu stabilnya sampai ke rumah. Beberapa kali dia hampir terjengkang, namun bisa menguasai keseimbangannya. Kaki-kaki kecilnya terasa begitu ringan seakan-akan dia mau terbang dalam perasaan panik.</p>
<p>Dengan kecepatan seperti itu, Pierre kecil bisa tiba dirumahnya jauh lebih cepat dari yang sudah-sudah</p>
<p>&#8220;Ayaaaaaaaaahh  . . !!!!&#8221;. teriak Pierre saat memasuki halaman samping rumahnya…</p>
<p>Mendengar teriakan Pierre, sang ayah yang barusan selesai memperbaiki roda kereta tersontak dan langsung berlari menyongsong anak kesayangannya itu.</p>
<p>&#8220;ada apa . . . ?&#8221;</p>
<p>&#8221; mana domba-domba kita ?&#8221;</p>
<p>&#8221; Ada srigala yang menyerang mereka ?.&#8221;  tanya ayahnya, bertubi-tubi.</p>
<p>Dalam keadaan ngos-ngosan dan lelah. Pierre hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil menunjuk ke arah laut.  Mulutnya seakan berat untuk bercerita. Entah berat, atau karena memang tidak tahu apa yang tengah terjadi disana, dilautan.</p>
<p>&#8221; . .  huhhh . . .se . . sebaiknya . .  ayah . .  ayah . . melihatnya sendiri . .&#8221; ucap Pierre kecil pada akhirnya dengan terbata-bata . .</p>
<p>Tanpa basa-basi lagi, ayah Pierre segera berlari ke arah kandang kuda mereka, dan mengeluarkannya. Kuda ini biasanya hanya digunakan untuk dipasang di kereta. Tapi karena kereta baru saja mengalami kerusakan, maka kudanya pun dilepas dulu.</p>
<p>Dengan terburu-buru  ayah Pierre memasang  pelana dan tali penghela kuda itu lalu langsung menaikinya.</p>
<p>&#8221; Ikutlah !! ibu sedang tidak dirumah. Dia pergi mengambil air di sumur.&#8221;. Kata sang ayah  pada Pierre kecil yang sedari tadi terlihat belum lepas dari kelelahan dan keterkejutan.</p>
<p>Dengan bantuan sang ayah, Pierre langsung turut naik ke atas kuda itu, yang segera dipacu berlari menuju ke bukit tadi.</p>
<p>Sesampainya di kaki bukit itu, ayah dan anak itupun langsung turun. Pierre kecil menunjuk ke arah puncak bukit.  kuda tunggangan mereka di biarkan saja terlepas dan langsung menikmati rumput segar di bukit itu. Bergabung dengan kawanan domba-domba milik Pierre. Sementara mereka, Pierre dan ayahnya,  langsung bergerak, berlari menuju ke puncak bukit.</p>
<p>&#8220;Lihat itu . .. . .!!!&#8221; tunjuk Pierre ke arah lautan saat mereka tiba di puncak bukit itu. . . .</p>
<p>&#8221; Kenapa banyak sekali perahu dan kapal di sana . .?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa mereka . . .&#8221; kini giliran Pierre kecil yang menyorongkan pertanyaan bertubi-tubi pada ayahnya yang tengah terperanjat.</p>
<p>Ayahnya sendiri tak kalah shock dengan apa yang barusan dan tengah dilihatnya. Napasnya serasa memberat.  Bulu-bulu  nyawanya berdiri, menegang . . . .</p>
<p>Setelah beberapa menit,  perlahan dia akhirnya mampu menguasai diri. Napasnya mulai teratur. Ketegangan yang tadi dia rasakan, perlahan mulai berganti dengan ketakjuban dan kekaguman atas apa yang tengah dilihatnya dibawah sana, di arah lautan. . . Saat ratusan kapal dari berbagai jenis dan ukuran tengah berlayar mendekati bibir pantai Cherbourg, tempat mereka. Sulit untuk menghitung berapa jumlah pastinya, karena memang sangat banyak. Bahkan birunya lautan  saat itu tertutupi oleh warna dominan merah  yang menghiasai setiap Kapal tersebut. Semua kapal-kapal tersebut memang memiliki layar berwarna merah dengan variasi warna kuning. Sangat mencolok mata. Sungguh, ini pemadangan yang luar biasa. Dan Ini, untuk kali pertamanya mereka melihat pemandangan megah seperti itu.  Lautan biru itu seolah berubah menjadi karpet merah raksasa dengan titik kecil berwarna kuning yang menghiasi beberapa bagiannya.</p>
<p>Di bawah pantai sana memang ada sebuah pelabuhan tua, yang dulu ramai dengan kapal-kapal dagang. Tapi entah kenapa aktifitas di pelabuhan itu berangsur berkurang dan menyusut, hingga saat ini Cuma pelabuhannya saja yang tersisa dan terbengkalai.  Sewaktu kecil dulu, ayah Pierre masih mengalami saat pelabuhan itu tengah ramai-ramainya. Dia kerap melihat kapal yang lalu lalang dalam jumlah banyak. Tapi sebanyak-banyaknya kapal yang pernah dilihatnya saat itu, tidak sebanyak sekarang, yang saat ini tengah berlayar mendekati pantai Chaerbourg. Mungkin puluhan kali lipat lebih banyak jumlahnya. Apalagi dengan warna Merah yang seragam. Semakin mengundang ketakjuban  bagi siapapun yang melihatnya.</p>
<p>Setelah mengamati lebih jelas bendera besar yang terpasang di salah satu Kapal, ayah Pierre pun menarik nafas panjang sembari berbisik lirih :</p>
<p>&#8221; Pasukan Old Trafford yang Maha  agung.  Apalagi yang menuntun mereka untuk datang kemari, ke daratan Eropa. . .&#8221;</p>
<p>&#8221; Siapa mereka, ayah  ?.  . apakah mereka berbahaya . .? . .  aku takuuuuut . . !!!!&#8221; ujar Pierre kecil sedari tadi belum lepas dari kebingungan dan kecemasan. Dia lalu memeluk ayahnya untuk menunjukkan ketakutannya. Air matanya perlahan mulai menetes.</p>
<p>Sang ayah, yang mengetahui ketakutan dan kecemasan anaknya, langsung menenangkan Pierre.</p>
<p>&#8221; Sudah .  . tak usah takut. Mereka bukan orang jahat . . . . &#8220;. Ujarnya tersenyum seraya mengusap-usap kepala Pierre dan menyeka air mata anaknya itu.</p>
<p>Dia lalu berjongkok hingga wajahnya tepat bertatapan dengan bocah berusia 11 tahun itu.</p>
<p>&#8221; Dengarkan ayah !!! . .  .  mereka itu adalah para pasukan dan Ksatria yang saat ini menjadi penguasa Eropa. Mereka adalah raja di tanah Inggris nun jauh di seberang lautan sana, sekaligus pemuncak disini, di daratan eropa yang kita tinggali ini.  . . . saat ini, mereka adalah penguasa kita. Mereka orang-orang yang dihormati di seantero jagad ini . . . .&#8221; jelas ayah Pierre kepada anaknya dengan lembut.</p>
<p>Entah Pierre kecil paham atau tidak dengan penjelasan ayahnya.  Ayahnya mungkin tidak peduli itu, karena mungkin saja dia tadi hanya mengeluarkan bahasa-bahasa ketakjubannya pada pemandangan megah yang baru dilihatnya tadi. Tanpa peduli apakah si anak mengerti tentang bahasanya atau tidak.</p>
<p>&#8221; Nah, sekarang kau tak perlu takut. Mereka orang yang baik . . . . &#8221;</p>
<p>&#8221; hmmm begini,…….Ayah akan naik memberitahu orang-orang tentang hal ini, dengan menunggangi kuda tentunya.  Dan ayah minta bantuanmu untuk membawa pulang domba-domba kita. . . . Bruno dan Bleki akan menemanimu.  Bisa kan ?&#8221; Pinta sang Ayah pada Pierre sambil menatap sayang pada pada mata sang anak.</p>
<p>Pierre kecil hanya mengangguk . . . . .</p>
<p>&#8220;ingat . . langsung pulang, dan jangan buat panik ibumu . . .okey .&#8221;</p>
<p>Untuk kedua kalinya Pierre mengangguk.</p>
<p>Setelah mencium kening anaknya, ayah pierre langsung bergegas menuruni bukit itu menjumpai kuda tunggangannya.  Dari atas kuda, dia menyempatkan berteriak pada Pierre yang masih termangu diatas bukit itu.</p>
<p>&#8221; Pierre .  .!!!!! cepat pulang . . .!!!!.&#8221;  Teriak ayahnya yang kemudian langsung memacu tunggangannya menuju ke Kota.</p>
<p>Pierre kecil tak menjawab lagi.  Dia kembali memandang ke lautan lepas yang tengah me-Merah itu. Merekam pemandangan yang tak pernah dialaminya sebelumnya. Sesuatu yang lain dan lebih besar dari yang pernah dia nikmati sebelumnya . . . . .</p>
<p>Tapi, masih ada yang mengganggu pemandangannya saat itu dan meninggalkan kecemasan dihatinya serta  membuatnya sedikit takut. Itu karena sebuah gambar yang terlihat di bendera pada setiap kapal :  Setan kuning yang tengah memegang Trisula.</p>
<p>Sementara itu nun jauh di lautan sana, puluhan perahu kecil terlihat keluar dari perut beberapa kapal besar dan meluncur dengan lincahnya ke bibir pantai.  Mereka akan menjadi perintis dan pembuka ruang di pinggir pantai, sebelum pendaratan pasukan dan logistik besar-besaran dilakukan nantinya.</p>
<p>Tak lama berselang, dua bendera raksasa berwarna merah bergambar setan memegang trisula sudah terpancang di tepi pantai itu, dengan jarak antara keduanya hampir mencapai 2 km.  Satu disebelah selatan, dan satu lagi disebelah utara.  Bendera raksasa itulah yang nanti akan menjadi pemandu batas terluar dari lokasi pendaratan pasukan dan logistik.  Dan dalam radius 2 km itu, pasukan Old Trafford akan membangun tempat berpijak awal mereka di daratan Eropa.</p>
<p>Beberapa orang  berjubah perang warna merah juga sudah tampak berada diatas pelabuhan tua yang teronggok lusuh dipantai itu. Mereka tengah memeriksa beberapa bagian dari pelabuhan tersebut, untuk mengetahui kelayakannya sebagai tempat bongkar-muat logistik nantinya.</p>
<p>Pierre kecil masih mengamati semua aktifitas itu dengan begitu jelasnya, dari atas bukit dimana saat ini dia berdiri dan terpana. Tapi dia masih bingung dan  tidak paham sepenuhnya dengan apa yang terjadi dibawah sana. Dia tidak tahu bahwa sesungguhnya, para Ksatria The Reds Devil&#8217;s Army akhirnya tiba di daratan Eropa, dalam sebuah perjalanan untuk menunaikan tugas mereka :  MEMPERTAHANKAN  TAHTA  YANG TENGAH  TERGUGAT.</p>
<p>AND THE EUROPEAN INVASION . . BEGIN  !!!!!</p>
<p><strong>(be continued . . .)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Knight&#039;s Tale; King Of Europe</title>
		<link>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 19:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[COMGASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[junaedi uko]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[. . . . . .  Malam itu tidak  menjadi terlalu  gelap, karena rembulan mau menyumbang sedikit sinarnya. Tidak penuh memang, tapi cukup membantu pandangan mata saat beberapa kapal pengangkut tengah berlayar membelah selat Channel  yang memisahkan antara Pulau Britania dan benua Eropa.  Lautan saat itu juga begitu tenangnya, nyaris tanpa ombak yang menganggu. Angin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>. . . . . .  Malam itu tidak  menjadi terlalu  gelap, karena rembulan mau menyumbang sedikit sinarnya. Tidak penuh memang, tapi cukup membantu pandangan mata saat beberapa kapal pengangkut tengah berlayar membelah selat Channel  yang memisahkan antara Pulau Britania dan benua Eropa.  Lautan saat itu juga begitu tenangnya, nyaris tanpa ombak yang menganggu. Angin yang bertiup menggerakkan kapal-kapal dari kayu Oak itu, dan juga meng-kibar-kibarkan ribuan bendera kebesaran berwarna Merah yang terdapat di setiap sisi kapal.</p>
<p>Sore tadi, armada kapal ini bertolak dari pelabuhan Southamton di selatan Inggris, dengan tujuan pelabuhan Cherbourg di wilayah barat Prancis.  Kalau tidak ada aral melintang, besok siang mereka sudah akan tiba disana.  Tidak begitu jelas, berapa jumlah kapal yang turut dalam armada ini.  Begitu juga total manusia yang diangkut di atasnya. Tapi kalau mau dikisar, mungkin ada sekitar 25 ribuan. Mereka bukan penumpang biasa. Mereka adalah pasukan perang paling tangguh dari daratan Inggris saat ini.  Penguasa tanah Britania, sekaligus penguasa benua biru Eropa. Mereka berasal dari sebuah kota sakral bernama Manchester .</p>
<p>Cherbourg sendiri bukanlah pemberhentian terakhir mereka.  Karena dari sana mereka akan meneruskan perjalanan darat ke arah timur hingga tiba di Strasbourg. Dari situ, arah perjalanan akan berubah ke selatan, menyusuri sisi timur dari pegunungan Alpen dan memasuki tanah kekaisaran Roma. Bukan untuk menaklukkan, karena Roma adalah bagian dari penaklukkan yang mereka lakukan hampir setahun yang lalu.  Tapi datang untuk memenuhi naluri mereka sebagai penguasa : melenyapkan segala yang mengancam tahta mereka.</p>
<p>Ancaman itu datangnya dari bangsa Catalan. Sebuah bangsa yang hidup di pedalaman Spanyol. Saat ini  mereka tengah menjadi pemuncak tahta di sana . Naluri penaklukkan mereka kemudian mengiring mereka untuk mencaplok beberapa bangsa lain di sekitarnya. Entah sudah berapa wilayah yang mereka bikin bertekuk lutut. Dan korban mereka tersebar di banyak bagian benua biru itu.  Terakhir, mereka menginvasi sebuah wilayah kecil di sebelah utara London sekaligus menghancurkan kastil Stamfor Bridge .</p>
<p>Panaklukan di tanah Britania itu dianggap sebagai sebuah `kelancangan&#8217; bagi penguasa daratan Britania  saat ini, Sir Alex Ferguson. Dia adalah pemimpin sekelompok Ksatria berjubah merah yang begitu digdaya dan tangguh. Yang menjadi pemegang supremasi Inggris Raya sekaligus pemilik tahta Eropa. Julukan mereka juga kejam, The Red Devils atau si Setan Merah. Mereka  bertempat tinggal di kastil Old Trafford di wilayah Manchester .   Dan kali ini, mereka akan meminta pertanggung jawaban dari penguasa Catalan, atas invasi teritorialnya ke daratan Inggris. Sebuah pertempuran penentuan dengan bangsa Catalan akan tersaji di daratan Eropa, tepatnya di bekas pusat kebudayaan bangsa Romawi, kota ROMA.</p>
<p>Perjalanan mereka kali ini, adalah pertaruhan besar atas mahkota Eropa yang kini tersemat di dada dari jubah merah kebesaran mereka. . . .</p>
<p>Di barisan terdepan armada Old Trafford ini, di bagian dek teratas  dari kapal utama, seorang Ksatria Nampak berdiri sendiri.  Kedua tangannya berpegangan  pada kayu bulat yang melintang tepat di depannya. Kapal itu merupakan yang terbesar dan termegah diantara semua kapal yang tengah berlayar saat itu. Wajar saja, karena itu adalah kapal yang di tumpangi oleh para Ksatria-Ksatria utama dan pilihan.  Termasuk dia, yang merupakan salah satu Ksatria paling cemerlang yang ada saat itu. Dari bagian teratas dari kapal tersebut, dia bisa melihat sekeliling dengan cukup baik.  Langit yang cerah diatas sana , barisan armada kapal perang yang berlayar rapih di belakang kapalnya, dan garis batas cakrawala di depan sana . Di balik cakrawala itulah tersembunyi Eropa Daratan, dimana kapal ini dan dia akan bertuju. Dan sejauh ini, belum ada yang tampak. Daratan masih terlalu jauh. Apalagi ditambah gelapnya malam. Tidak terlalu jelas apa yang di depan sana .</p>
<p>Ksatria itu berwajah sangat rupawan. Usianya masih sangat muda. Mungkin berkisar 21 atau 23 tahunan. Tubuhnya kekar dengan otot-otot yang bermunculan secara proporsional. Matanya yang tajam, menatap lurus kedepan. Berusaha menembus gelapnya malam. Hendak menjamah tujuan akhir, yang tak mungkin akan nampak saat itu. Malam dan angin yang dingin tak sedikitpun dihiraukannya. Sesekali dia menarik nafas panjang dan melihat posisi bulan diatas sana . Beberapa saat kemudian dia berguman pelan:  &#8220;Kenapa perjalanan ini lama sekali. .  . .  . matahari pagi, cepatlah muncul. &#8221;</p>
<p>Beberapa saat berselang, seorang lain terdengar mendekat. Derap kakinya menaiki tangga yang terletak di samping kiri dek teratas dari kapal tersebut. Suara kakinya yang menaiki tangga kayu itu cukup keras, tapi tak cukup keras untuk membuat sang Ksatria tadi bergeming.  Ternyata yang datang adalah Ksatria lain.</p>
<div id="attachment_286" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-286" title="babycrybaby" src="http://kosmik.kampusmerah.web.id/wp-content/uploads/2009/05/babycrybaby-300x160.jpg" alt="babycrybaby" width="300" height="160" /><p class="wp-caption-text">cr.theoffside.com</p></div>
<p style="text-align: center;">&#8221; Cristiano !!, kau disini rupanya. Saya melihat kamarmu kosong. Jadi saya mencarimu hingga ke atas sini. &#8221; ujar Ksatria yang baru datang itu, membuka pembicaraan.</p>
<p>Tapi yang diajak bicara masih membisu . . . . nampaknya dia belum menyadari kehadiran Ksatria yang lain itu.</p>
<p>&#8221; Hey . . Cristiano, turunlah beristirahat . . . ..  hari sudah hampir pagi. Perjalan kita masih panjang. Simpan tenagamu&#8221;.  Sambungnya.</p>
<p>Baru setelah pertanyaan kedua itu, Ksatria yang ternyata bernama Cristiano tadi  tersentak.</p>
<p>&#8221; Oh, kau Ryan  !!. Maaf saya tak menyadari kehadiranmu. Saya begitu menikmati perjalanan malam  ini.&#8221; Balas Cristiano.</p>
<p>Ksatria yang baru datang itu, adalah Ryan Giggs. Dia adalah salah satu Ksatria terbaik yang pernal lahir dari Kastil Old Trafford. Usianya sudah tidak muda lagi. Sekitar 35 tahun. Tapi walau begitu, dia masih menjadi andalan dan tumpuan utama bagi kerajaannya.  Orangnya begitu bersahaja. Kesetiaanya pada tahta Old Trafford tiada bandingannya. Saat ini, dialah Ksatria yang paling senior di kastil Old Trafford. Di Kastil para elit warrior itu, dia sudah bergabung sejak masih berusia 17 tahun. Dan sudah menjadi bagian terpenting dari rentetan panjang kesuksesan penaklukan pasukan Old Trafforld.  Tak salah kalau gelar sebagai Komandan Legiun Pasukan Elit The Red Devils Army di berikan padanya.  Sosoknya juga sangat dikagumi. Tanpa banyak bicara, dia lebih sering berbuat. Penghormatan kepada Ksatria ini, tidak hanya datang dari tanah Britania.  Tapi dari seluruh Eropa.</p>
<p>Kepeduliannya pada kondisi seluruh skuad-lah yang membuatnya keluar mencari Cristiano malam itu, setelah menengok kamar-nya yang kosong.  Giggs sebenarnya memahami bagaimana keadaan dan kondisi psikologis junior-nya itu,  Naluri mudanya masih sangat dominan. Keinginannya untuk menaklukkan sangat kuat. Semangatnya selalu berapi-api menjelang pertempuran seperti saat ini.  Tapi  itu bukan hanya sekedar naluri liar.  Karena dia, Cristiano Ronaldo,  merupakan ksatria terbaik di tanah Eropa saat ini. Perannya sangat besar saat mengantarkan pasukan Old Trafford menjadi pemagang tahta di tanah Britania dan di seluruh Eropa setahun yang lalu. Dalam setiap pertempuran, dia selalu menjadi yang terdepan. Mencoba menahan dia, adalah sebuah kesulitan yang teramat besar.   Tahun lalu dia menjadi penakluk terbanyak di seluruh daratan Eropa.  Dan dia telah menjadi sebuah fenomena di usia yang masih se-muda ini.</p>
<p>Giggs, sang Komandan Legiun, juga paham benar bahwa pertempuran menghadapi bangsa  Catalan  nanti, bagi seorang Cristiano bukan sekedar pertarungan antara dua bangsa terkuat  yang ingin bertahta di Eropa. Tapi lebih dari itu, ada terselip ambisi pribadi di dalamnya. Keinginan untuk menegaskan tempatnya sebagai Ksatria yang terbaik di seluruh Benua biru.  Karena sempat tersiar kabar, kalau beberapa wilayah menolak untuk mengakui dia sebagai The Greatest Knight. Ada nama lain yang muncul. Nama yang dianggap oleh orang-orang itu lebih pantas daripada dia untuk bergelar  Ksatria terbaik.  Dan Ksatria itu, datang dari Catalan. Bangsa yang akan mereka hadapi nanti.</p>
<p>Itulah mengapa, pertempuran ini akan menjadi penting bagi seorang Cristiano. Karena ada kesempatan untuk berhadapan langsung dengan sosok yang dianggap lebih baik dari dia. Ini adalah momen pembuktian bagi dia, tentang siapa yang sebenarnya yang terbaik di daratan Eropa. Ketidaksabaran kini tengah menggelutinya. Ketidaksabaran menantikan The Judgement Day, dan membungkam mulut-mulut kotor yang menggugat gelarnya.</p>
<p>Nama Ksatria asal Catalan itulah yang memang tengah membuatnya gusar dan tidak menjadi sabaran malam itu. Dia ingat, setahun lalu dia sebenarnya sudah berhadapan dengannya. Dan mereka, pasukan Old Trafford-lah yang akhirnya memenangkan pertempuran itu.  Kini, mereka akan berhadapan lagi. Tapi menurut yang didengarnya, Ksatria asal Catalan ini semakin matang dalam pertarungan. Dia sudah banyak memakan korban. Itulah yang membuat Cristiano tidak betah menunggu lama.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, saya tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi jangan buang-buang energimu untuk menanti pagi yang masih lama. Beristirahatlah. Perjalanan masih terlalu panjang dan lagi, pertempuran nanti bukanlah pertempuran yang mudah. Jangan sampai kau menghadapinya dalam keadaan yang tidak bagus . . . .ayo, turunlah . . &#8221; Ucap Ryan Giggs sambil menepuk bahu belakang Cristiano.</p>
<p>Cristiano sendiri hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan.</p>
<p>&#8221; Baiklah . . aku turun duluan . .&#8221; lanjut Giggs. Ksatria bersahaja itu pun kembali turun, masuk ke dalam kapal dan meninggalkan Cristiano sendirian seperti semula.</p>
<p>Dalam kesendirian, Cristiano kembali menerawang ke langit sembari  menarik nafas panjang. Dia lalu mengeluarkan secarik kertas papyrus kecil dari dalam sakunya. Melihat tulisan yang tertera di atasnya dengan mata tajam.</p>
<p>&#8221; . .Kita lihat, siapa yang terbaik nanti . . . &#8221; Cristiano berguman sendiri di tengah derasnya angin yang tengah menerpa.</p>
<p>Kertas itu kemudian di remasnya hingga lusuh dan kemudian disobek, terpisah menjadi dua bagian.  Sobekan kertas itu lalu dibuangnya ke lantai dek dan sempat menginjaknya, sebelum akhirnya dia  bergerak turun ke dek bawah untuk beristirahat, meninggalkan dua sobekan kertas tadi.  Satu sobekkannya tertulis  `MES&#8217; . . dan di sobekan lainnya tertulis  `SI&#8217;.</p>
<p>Tak lama berselang Angin malam menerbangkan kedua potongan kertas itu pergi jauh . .  jauh . . meninggalkan Kapal dan Armada kapal  Merah yang berlayar dengan gagah di bawah siraman sinar rembulan pada malam itu.  . . . . . . .  . . .</p>
<p><strong> . . .. . . .  be continued</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-king-of-europe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton Bareng Final Liga Champion</title>
		<link>http://kosmik.web.id/agenda/nonton-bareng-final-liga-champion/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/agenda/nonton-bareng-final-liga-champion/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 19:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[COMGASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[aktifitas]]></category>
		<category><![CDATA[exist 08]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[
Semua Mata Tertuju Menuju Olimpico

Kini semua mata akan tertuju ke Roma, The Red Devils v Barca yang dianggap sebagai dua tim terbaik di dunia saat ini akan berhadapan di Final Liga Champion.  Barcelona akan menantang Manchester United (MU) di Stadion Olimpico Roma, 27 Mei mendatang. Ini terjadi setelah MU dengan sangat menyakinkan lolos ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"><strong><span style="color: #ff0000;">Semua Mata Tertuju Menuju Olimpico</span></strong></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kini semua mata akan tertuju ke <strong>Roma</strong>, <strong>The Red Devils v Barca</strong> yang dianggap sebagai dua tim terbaik di dunia saat ini akan berhadapan di Final Liga Champion.  Barcelona akan menantang Manchester United (MU) di Stadion Olimpico Roma, 27 Mei mendatang. Ini terjadi setelah MU dengan sangat menyakinkan lolos ke babak final setelah menumbangkan Arsenal 3-1 pada laga kedua semifinal di Stadion Emirates dan menang agregat 4-1. Sedangkan Barca harus bekerja keras agar bisa menuju Roma. Satu-satunya tim wakil spanyol di semifinal  harus menunggu hingga menit ke-93 untuk memastikan diri melaju ke final.  gol `emas&#8217; Andres Iniesta mengubur mengubur impian Drogba cs untuk ke final Liga champion Tahun lalu Ronaldo berhasil mengalahkan Messi dalam dua ajang bergengsi,  <em><strong>Ballon d&#8217;Or </strong></em>atau Pemain Ter-baik Eropa dan Pemain Terbaik Dunia FIFA. Namun, tahun ini Messi memiliki kesempatan untuk balas dendam. Siapa yang bisa mengantarkan klubnya menjadi juara di Roma, maka dialah yang pantas mendapatkan dua gelar bergengsi tersebut. &#8220;Jadi siapakah yang akan tertawa dan menangis di akhir pertandingan?&#8221; Jawabannya baru akan diketahui d<span style="color: #ff0000;"><strong><span style="color: #000000;">i</span> </strong></span></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cafe Sappiseng&#8230;.??? Ga Nyambung&#8230;&#8230;</strong></span></h2>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong> </strong></span></p>
<p><strong>Please come n join US&#8217;&#8230;</strong></p>
<p><strong>Nonton bareng FINALLIGA CHAMPION</strong></p>
<p>Kafe Sappiseng &#8211; Kamis, 27 Mei 2009 &#8211; pukul 01.00<br />
Jalan Perintis Kemerdekaan (dekat/samping Bank Danamon)<br />
Cukup dengan 10.000 IDR anda sudah bisa mendapatkan kopi susu + snack + hotspot gratis + dan kemeriahan nonton bareng liga champion +nyumbang untuk Acara Follow Up Figur teman-teman 2008&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/agenda/nonton-bareng-final-liga-champion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Knight&#039;s Tale &#8211; Sequel</title>
		<link>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-sequel/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-sequel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 17:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[COMGASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[darmadi]]></category>
		<category><![CDATA[junaedi uko]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Di tempat lain di sebuah perkampungan terbesar di Basquet pesta tengah berlangsung sederhana. Penjajakan ke Britania cukup memberikan informasi kepada commandante baru ksatria Catalonia. Sebelumnya, para ksatria tak bertuan bangsa Basquet berhasil meratakan dataran Andalusia hingga selat Gibraltar yang sedang jaya mengatas namakan Kerajaan Spanyola yang Agung. Spanyol yang telah berabad2 ingin menjajah Catalonia harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-273" title="1694_face" src="http://kosmik.web.id/wp-content/uploads/2009/05/1694_face.jpg" alt="1694_face" width="270" height="242" />Di tempat lain di sebuah perkampungan terbesar di Basquet pesta tengah berlangsung sederhana. Penjajakan ke Britania cukup memberikan informasi kepada commandante baru <strong>ksatria Catalonia</strong>. Sebelumnya, para ksatria tak bertuan bangsa Basquet berhasil meratakan dataran Andalusia hingga selat Gibraltar yang sedang jaya mengatas namakan Kerajaan Spanyola yang Agung. Spanyol yang telah berabad2 ingin menjajah Catalonia harus menyantap makan malam terpahit yang pernah mereka alami sepanjang sejarah mereka.</p>
<p>Comandante Muda yang berparas rupawan ini terlihat menarik nafas panjang dalam2,  seperti sangat menikmati ketika dia menghantamkan gada perak ke mulut besar seorang Kastria Tua bangsa Dutch yang entah mengapa menjadi pemimpin untuk orang Britania di Stamford Bridge. Keagungan britania seperti tidak mungkin mereka capai sendiri jika dipimpin orang Woad, penghuni asli daratan Britania. Membentang dari Buckingham hingga ke York, terdapat empat kota yang katanya dipenuhi ksatria kelas eropa tapi semua pimpinannya bukanlah englishman. Stamfor Bridge dengan orang Dutch, Emirates diperintah seorang Musketeer Prancis, Anfield dipimpin seorang Spanyol dan yang terakhir Devils Army yang bermarkas di Old Trafford dipimpin seorang Sir (mungkin dia Baron kekuasaan yang didapatkan sebagai hasil perselingkuhannya dengan Ratu hingga di hadiahi tanah di manchester) padahal dia Native Scottish, bangsa hijau di utara.</p>
<div id="attachment_276" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-276" title="guardiola" src="http://kosmik.kampusmerah.web.id/wp-content/uploads/2009/05/guardiola-150x150.jpg" alt="blogs.reuters.com" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">blogs.reuters.com</p></div>
<p>Comandante Muda bernama <strong>Guardiola</strong> tidak sampai hati membunuh orang Dutch itu, walaupun sudah sekarat. Denyut hidup di kota Stamford Bridge tidak boleh terhenti sama seperti mereka tetap menginginkan kemerdekaan penuh atas nama bangsa Basquet di catalonia. Cukuplah untuk memperlihatkan bahwa para ksatria tak bertuan Catalan sedang berada di kondisi emas, hal ini harus diperhatikan Sir Bangsa hijau itu yang telah menanti di gelanggang Coloseum Rome.</p>
<p>Kegetiran perang di eropa raya pasti terasa untuk para Ksatria Setan, jika saja mereka dipimpin King Arthur mungkin sarapan mereka akan lebih manis hingga akhir Mei nanti. Betapa tidak, sampai hari ke 27 Mei mereka harus merasakan sarapan berbumbu duri.</p>
<p>Semangat terbebas dari dominasi Raja-raja feodal eropa menjadi janji untuk kegemilangan kemenangan di gelanggang pertarungan Ksatria di Roma. Comandante Guardiola berkata bahwa Dewa Thor dari Skandinavia begitu kejam atas campur tangannya mengambil Ksatria Muslim Prancis di barisannya&#8230; tapi ini tak akan menghalangi Via Dolorosa menuju kemenangan di roma. bahkan Tumbal Abidal menjadikan semangat bertarung para Catalans semakin membara berlipat-lipat.</p>
<p>Kali ini, tangisan King Arthur akan terdengar menggelegar dari valallha melihat ksatria britania dibantai di roma oleh sekelompok pemberonyak catalan. bahkan Merlin tidak sudi mengilhamkan strategi perangnya kepada Scottish yang telah berselingkuh dengan Ratu.</p>
<p>- maD_Die -</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale-sequel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Knight&#039;s Tale&#8230;</title>
		<link>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 17:15:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[COMGASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[guys 02]]></category>
		<category><![CDATA[junaedi uko]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Sisa-sisa pertempuran semalam masih terasa di tempat itu, walau belum sepenuhnya bisa dilihat dengan jelas. Asap-asap bekas pembakaran menyatu dengan debu dari bangunan yang roboh, mengurangi ketajaman mata setiap orang untuk melihat kehancuran seperti apa yang tengah berlangsung.
Suara tangis dan ratapan kesedihan, konstan menyusup diantara kepulan debu dan asap itu. Sesekali, terdengar pula erangan kesakitan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_117" class="wp-caption alignleft" style="width: 390px"><img class="size-full wp-image-117" title="stamford_bridge" src="http://kosmik.web.id/wp-content/uploads/2009/05/stamford_bridge.jpg" alt="stamford_bridge" width="380" height="247" /><p class="wp-caption-text">stamford bridge battle</p></div>
<p>Sisa-sisa pertempuran semalam masih terasa di tempat itu, walau belum sepenuhnya bisa dilihat dengan jelas. Asap-asap bekas pembakaran menyatu dengan debu dari bangunan yang roboh, mengurangi ketajaman mata setiap orang untuk melihat kehancuran seperti apa yang tengah berlangsung.</p>
<p>Suara tangis dan ratapan kesedihan, konstan menyusup diantara kepulan debu dan asap itu. Sesekali, terdengar pula erangan kesakitan dari ksatria yang yang tengah terbaring penuh luka dan tanpa daya. Deretan bendera berwarna Biru yang menjadi simbol kebesaran daerah itu nampak dimana-mana dalam keadaan patah dan terkoyak. Beberapa diantaranya bahkan terbakar hangus. Kota itu, yang dikenal dengan nama Stamford Bridge, kini dalam keadaannya yang teramat pedih.</p>
<p>Tepat di tengah reruntuhan kota itu, terkapar sesosok tubuh yang rapuh. Dari pakaian yang dikenakannya, Nampak sekali dia bukan orang sembarangan. Karena yang dikenakannya itu adalah jubah kebesaran seorang ksatria. Dan di tempat itu, hanya dia yang memakainya. Tapi, kemegahan dari jubahnya itu seakan tak bernilai, karena tubuh yang<br />
dibungkusnya tengah sekarat tak berdaya. Napasnya tinggal satu-satu. Matanya nanar, menatap kosong ke langit. Beberapakali dia terbatuk-batuk dengan disertai kucuran darah kental dari mulutnya. Bekas lebam terlihat<br />
di beberapa tempat di wajahnya.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian, derap kaki kuda terdengar riuh mendekati gerbang Kota itu. Jumlahnya banyak, mungkin puluhan. Mereka yang datang itu ternyata adalah sekumpulan ksatria dari wilayah lain. Kesemuanya<br />
tampil dengan jubah perang dengan warna kebesaran Merah yang gagah. Rombongan berkuda itu, tanpa kesulitan masuk melewati gerbang utama. Saat itu, gerbang utama kota memang tidak lagi berdiri sebagaimana<br />
adanya. Ada lubang besar menganganga disisi kanannya. Mungkin disebabkan oleh sebuah hantaman meriam. Dan pastilah hantaman meriam itu telak kenanya dan lebih dari sekali.</p>
<p>Mereka ini, dipimpin oleh seorang tua yang tampak begitu berwibawa. Guratan garis-garis kecil diwajahnya menunjukkan bagaimana panjang perjalanan dan perjuangannya. Tempat ini sendiri, bagi dia, adalah<br />
tempat yang akrab. Dia dan pasukannya sering kesini dengan berbagai keperluan. Dan sebagian besar diantaranya, adalah untuk penaklukkan. Sambil terus berjalan dengan kuda tunggangannya, matanya tak berhenti<br />
memandang ke sekeliling. Sejurus, hanya ada satu yang bisa dilihat, kehancuran.</p>
<p>Di lain pihak, wajah-wajah ketakutan dari warga setempat terpampang saat rombongan itu melewati reruntuhan kota mereka. Mereka saling berpelukan satu sama lain, sambil sesekali memohon iba atas peristiwa tragis yang baru mereka alami. Mereka mengenal betul siapa rombongan ini. Musuh bebuyutan dalam beberapa dekade terakhir. Kota mereka kerap terlibat dalam pertikaian dengan rombongan berkuda yang datang ini. Tapi itu dulu. Sedangkan saat ini, Tapi saat itu, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka sudah terpuruk dan tengah terjengkang. Mereka tak mampu<br />
melawan lagi seperti yang dulu mereka lakukan. Perang dan kekalahan semalam benar-benar menjerumuskan potensi perlawanan mereka hingga ke titik terendah. Seluruh kota pun pasrah terhadan semua kemungkinan yang bakal menimpa mereka nantinya.</p>
<p>Rombongan pasukan berkuda tadi akhirnya berhenti di depan sesosok tubuh berjubah biru yang tengah tergolek tanpa daya tepat di tengah-tengah kota. Pemimpinnya kemudian turun mendekati tubuh itu. Dua orang kepercayaannya juga turut menemaninya. Dia kemudian berjongkok dan mengangkat tubuh lemah itu dengan tangannya sendiri dan menyandarkan di pangkuannya.</p>
<blockquote><p>&#8221; Apa yang telah terjadi disini. .?&#8221;. Tanya pemimpin rombongan berkuda itu.</p></blockquote>
<p>Dalam kondisi sekarat, tubuh lemah yang tengah terbaring dipangkuan itu mencoba menjawab . . . . .</p>
<blockquote><p>&#8221; Me . . me . mereka . . cepat, kuat dan menghancurkan . . &#8221; jawab orang itu terbata-bata</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8221; Mereka .? siapa mereka itu ? &#8221;</p>
<p>&#8221; Mereka . . orang-orang dari Catalan . . . . . kami sudah coba untuk bertahan. Ta . .ta . . tapi, menjelang akhir pertempuran mereka berhasil membobol pertahanan kami . . . . dan menghancurkan semuanya&#8221;.</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8221; Apa yang mereka inginkan sebenarnya ? &#8221; lanjut pemimpin rombongan ksatria itu.</p></blockquote>
<p>Masih dalam perihnya, tubuh tadi, yang ternyata adalah pemimpin di Stamford Bridge menjawab</p>
<blockquote><p>&#8220;Mereka. . ingin . . ingin . . . menghancurkan seluruh Britania, menghancurkan dominasi kita selama ini. Lebih dari itu, mereka ingin merebut mahkota yang . .aghh . . yang kini kau pegang. Kini, mereka menunggu kedatanganmu . . . . dan pasukanmu di Roma. Mereka ingin me .. me . . melakukan perhitungan akhir . . di sana . . . &#8220;</p></blockquote>
<div id="attachment_118" class="wp-caption alignleft" style="width: 209px"><img class="size-full wp-image-118" title="guus_hiddink_rip" src="http://kosmik.web.id/wp-content/uploads/2009/05/guus_hiddink_rip.jpg" alt="guus_hiddink_rip" width="199" height="454" /><p class="wp-caption-text">jiwanya musnahhh</p></div>
<p>Sesaat setelah menjawab, tubuh itu terdiam kaku tak bereaksi . . . . . . jiwanya telah punah.</p>
<p>&#8220;Persiapkan upacara pemakaman untuk dia !!!&#8221;. perintah Pemimpin Rombongan ksatria berjubah merah tadi kepada anak buahnya.</p>
<p>Tubuh yang sudah tak bernyawa itu pun berpindah dari pangkuan sang Pemimpin ke anak buahnya. Pemakamannya akan segera dilaksanakan.</p>
<p>&#8220;Orang-orang Catalan itu . . . . apalagi yang mereka mau ?. Tidak puaskah mereka dengan kehancuran yang kita berikan setahun lalu. ? sekuat apa saat ini mereka sehingga berani menantang kita, SANG PENGUASA EROPA ?. &#8221; ujar Pemimpin para ksatria berjubah Merah itu pada dua orang kepercayaannya yang sedari tadi mendampinginya.</p>
<p>&#8221; Jadi apa yang akan kita lakukan, Sir ? &#8220;. Tanya salah seorang kepercayaannya itu kepada pemimpinnya yang ternyata bernama lengkap Sir Alex Ferguson.</p>
<p>Sir Alex tidak segera menjawab. Dia kemudian naik ke sebuah reruntuhan bangunan kecil, berdiri disana menghadap ke arah pasukan berjubah merah yang dipimpinnya. . . . Dari posisi yang tinggi itu, dia kemudian menyampaikan pidato penting pada anak buahnya :</p>
<p>&#8221; Para Ksatria Merah Old Trafford, dengarkanlah !!!!&#8221; Teriaknya lantang.</p>
<p>&#8221; Akhirnya, saat itu datang juga, saat dimana kebesaran dan kejayaan kita digugat oleh oleh bangsa lain. Saat makhkota yang kukenakan ini, dan kemegahan yang ada pada diri kalian semuanya ingin dirampas. Dan mereka, yang ingin mencoba merebut ini, adalah Bangsa Catalan. Saya sudah mendengar tentang mereka beberapa waktu terakhir ini. Mereka memang ksatria tangguh, cepat dan haus darah. Mereka telah menaklukkan banyak tempat. Kerajaan Lyon di Prancis, kerajaan Lisbon hingga bangsa Bavaria di Tanah Jerman. Tapi apakah semua itu membuat kita Takut . .? TIDAAAAAAKKKK sama sekali TIDAAAKK !!!. INGAT !!, mereka itu, hanyalah sisa-sisa dari penaklukan kita setahun lalu yang kemudian menjadikan kita sebagai yang terbaik di seluruh daratan Eropa bahkan diseluruh dunia. Kita pun sudah kerap menghancurkan mereka. Dan sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk K A L A H !!!! . Sekarang,</p>
<p>mereka kembali menantang kita untuk sebuah Pertempuran Penentuan . . The Decisive battle.</p>
<blockquote><p>If They want a war . we will GIVE IT to them. And That&#8217;s what we are waiting for. We never afraid to anything coz we are the DEVIL&#8217;s . . the RED DEVILS !!!!!. &#8220;</p></blockquote>
<p>Sir Alex kemudian mengeluarkan pedang panjang miliknya dan mengancungkannya ke langit sambil berteriak lantang .</p>
<blockquote><p>. . &#8220;THE RED DEVIL&#8217;S ARMY . . . . . . WE MARCH TO . . . . . . ROMA !!!!!!!!&#8221;</p></blockquote>
<p>Teriakan yang kemudian disambut oleh gemuruh pasukannya <strong>&#8221; TO GLOOOORRYYYY . . . .!!!!!!!&#8221;</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/part/comgastra/knights-tale/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
