<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Hasanuddin &#187; CSC</title>
	<atom:link href="http://kosmik.web.id/category/part/csc/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kosmik.web.id</link>
	<description>weblog milik Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Hasanuddin</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 15:33:03 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Teori Belajar</title>
		<link>http://kosmik.web.id/part/csc/teori-belajar/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/part/csc/teori-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 21:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[CSC]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[teori]]></category>
		<category><![CDATA[thinktep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Pentingnya teori adalah sebagai kerangka kerja penelitian. Teori sangat berguna untuk kerangka kerja penelitian, terutama untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bagi pemahaman peristiwa. Empirisme yang polos, menurut Suppes (dalam Bell, 1986) merupakan bentuk coretan mental dan ketelanjangan tubuh yang jauh lebih menarik daripada ketelanjangan fikiran.
Teori
Teori adalah seperangkat konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pentingnya teori adalah sebagai kerangka kerja penelitian. Teori sangat berguna untuk kerangka kerja penelitian, terutama untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bagi pemahaman peristiwa. Empirisme yang polos, menurut Suppes (dalam Bell, 1986) merupakan bentuk coretan mental dan ketelanjangan tubuh yang jauh lebih menarik daripada ketelanjangan fikiran.</p>
<p><strong>Teori</strong></p>
<p>Teori adalah seperangkat konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang memberikan, menjelaskan, dan memprediksikan phenomena. Ada dua macam teori, yaitu teori intuitif dan teori ilmiah. Teori intutif adalah teori yang dibangun berdasarkan pengalaman praktis. Sedangkan teori ilmiah (teori formal) adalah teori yang dibangun berdasarkan hasil-hasil penelitian. Guru lebih sering menggunakan teori jenis yang pertama.</p>
<p>Menurut Suppes (dalam Bell, 1986) ada empat fungsi umum teori. Fungsi ini juga berlaku bagi teori belajar, yakni: (1) berguna sebagi kerangka kerja untuk melakukan penelitian; (2) memberikan suatu kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir informasi tertentu; (3) identifikasi kejadian yang komplek; (4) reorganisasi pengalaman-pengalaman sebelumnya.</p>
<p>Pentingnya teori adalah sebagai kerangka kerja penelitian. Teori sangat berguna untuk kerangka kerja penelitian, terutama untuk mencegah praktek-praktek pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bagi pemahaman peristiwa. Empirisme yang polos, menurut Suppes (dalam Bell, 1986) merupakan bentuk coretan mental dan ketelanjangan tubuh yang jauh lebih menarik daripada ketelanjangan fikiran.</p>
<p>Fungsi teori sebagai kerangka kerja pengorganisasian butir-butir informasi tertentu. Semua teori belajar memenuhi fungsi ini. Dalam menjalankan fungsi ini teori dapat dijadikan acuan dan pedoman bagi pembelajar dalam melakukan aktivitasnya. Dengan memahami teori, pembelajar akan dapat melakukan pekerjaannya secara efisien dan efektif.</p>
<p>Fungsi identifikasi kejadian yang komplek. Teori dapat menjalankan fungsinya dalam mengatasi masalah-masalah pembelajaran melalui identifikasi kejadian yang komplek. Karena teori sering dapat mengungkapkan seluk beluk dan kerumitan peristiwa-peristiwa yang tampaknya sederhana.</p>
<p>Fungsi reorganisasi pengalaman terdahulu. Fungsi teori yang keempat ini, erat kaitannya dengan upaya untuk menyusun kembali kepercayaan lama, terutama hal-hal penting yang ada manfaatnya bagi proses belajar di kelas.</p>
<p>Teori sebagai model kerja. Di samping empat fungsi tersebut di atas, teori juga diharapkan dapat menjadi model kerja. Teori dapat dijadikan model kerja fenomena tertentu sampai diketemukannya teori baru.</p>
<p>Bruner (1964) diakui oleh kalangan instructional theorist sebagai peletak dasar pengembang teori-teori pembelajaran, di samping Skinner (1954) dan Ausubel (1968).  Bruner (1964) membuat pembedaan antara teori belajar dan teori pembelajaran. Teori belajar adalah deskriptif, sedangkan teori pembelajaran adalah preskriptif. Teori belajar mendeskripsikan adanya proses belajar, teori pembelajaran mempreskripsikan strategi atau metode pembelajaran yang optimal yang dapat mempermudah proses belajar.</p>
<p>Dari perspektif lain, Simon (dalam Degeng, 1989) mengemukakan perbedaan serupa dengan memaparkan persamaan karakteristik dari ”a prescriptive science” dan membandingkan dengan karakteristik dari ”a descriptive science”. Dalam kerangka ini nyata sekali bahwa teori pembelajaran termasuk teori preskriptif yang berpasangan dengan teori belajar yang termasuk teori deskriptif.</p>
<p>Ilmu deskriptif dan ilmu preskriptif memiliki perbedaan peranan. Aspek penting yang membedakan adalah hanya ada satu jenis profesi dalam ilmu deskriptif, yaitu ilmuwan. Sedangkan dalam ilmu preskriptif terlibat tiga jenis profesi, yaitu (1) ilmuwan; (2) teknolog dan (3) teknisi. Ilmuwan berurusan dengan pengembangan prinsip dan teori. Teknolog yang menggunakan prinsip dan teori untuk mengembangkan prosedur. Sedangkan teknisi yang menggunakan prosedur yang dikembangkan teknolog untuk menciptakan sesuatu (Reigeluth, Bunderson, dan Merril dalam Degeng, 1989)</p>
<p>Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan diantara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada ”bagaimana seseorang belajar”. Sebaliknya teori pembelajaran menaruh pehatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain untuk belajar. Teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variabel-variabel.</p>
<p>Pembedaan teori belajar (deskriptif) dan pembelajaran (preskriptif)  dikembangkan oleh Bruner, lebih lanjut oleh Reigeluth (1983), Gropper (1983), dan Landa (1983). Menurut Reigeluth (dalam Degeng 1989) teori-teori dan prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variabel kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens dan memerikan hasil pembelajaran sebagai variabel yang diamati. Dengan kata lain kondisi dan metode pembelajaran sebagai variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel tergantung.</p>
<p>Sebaliknya dalam teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang preskriptif menempatkan kondisi dan hasil sebagai givens sedangkan metode yang optimal ditetapkan sebagai variabel yang bisa diamati. Jadi metode pembelajaran sebagai variabel tergantung. Teori preskriptif adalah goal oriented, sedangkan teori deskriptif adalah goal free (Reigeluth, 1983). Artinya teori pembelajaran preskriptif adalah untuk mencapai tujuan, sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untuk memerikan hasil.<br />
<strong>Belajar</strong></p>
<p>Belajar merupakan upaya pemberian makna oleh pebelajar kepada pengalamannya. Prosesnya mengarah pada pengembangan struktur kognitif dan dilakukan baik secara mandiri maupun secara sosial. Tujuan utama pembelajaran adalah membelajarkan pebelajar. Oleh karena itu pembelajaran harus diarahkan untuk mengoptimalkan upaya tersebut. Beberapa pakar pembelajaran mengembangkan konsep tentang belajar, diantaranya Marzano (1992), melukiskan kegiatan belajar akan efektif jika melalui 5 dimensi belajar yang digambarkan sebagai berikut:</p>
<div id="attachment_198" class="wp-caption aligncenter" style="width: 414px"><img class="size-full wp-image-198" title="dimensi-belajar-marzano" src="http://kosmik.web.id/wp-content/uploads/2009/05/dimensi-belajar-marzano.jpg" alt="Gambar Model Dimensi Belajar (Adaptasi dari Marzano, 1992)" width="404" height="270" /><p class="wp-caption-text">Gambar Model Dimensi Belajar (Adaptasi dari Marzano, 1992)</p></div>
<p>Gambar menunjukkan bahwa proses, hasil dan dampak belajar pebelajar akan optimal, jika pebelajar:</p>
<ul>
<li>Memiliki persepsi dan sikap positif terhadap belajar;</li>
<li>Mau dan mampu mendapatkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan serta membangun sikapnya;</li>
<li>Mau dan mampu memperluas serta memperdalam pengetahuan dan ketrampilan serta memantapkan sikapnya;</li>
<li>Mau dan mampu menerapkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikapnya secara bermakna;</li>
<li>Mau dan mampu membangun kebiasaan berfikir, bersikap dan bekerja produktif.</li>
</ul>
<p>Sedangkan pakar lain, Light and Cox (2001) menggambarkan konsep tentang kesenjangan belajar.</p>
<div id="attachment_199" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-199" title="the-learning-gaps" src="http://kosmik.web.id/wp-content/uploads/2009/05/the-learning-gaps.jpg" alt="the-learning-gaps" width="400" height="245" /><p class="wp-caption-text">Gambar kesenjangan Belajar (Adaptasi Light and Cox, 2001)</p></div>
<p style="text-align: left;">Gambar menjelaskan terjadinya kesenjangan dalam belajar (learning gap), adapun kesenjangannya dapat berupa.</p>
<ul>
<li>Kesenjangan antara pengetahuan hafalan dengan pemahaman;</li>
<li>Kesenjangan antara pemahaman dengan kemampuan/ kompetensi;</li>
<li>Kesenjangan antara kompetensi dengan kemauan/ dorongan untuk melakukan;</li>
<li>Kesenjangan antara kemauan untuk melakukan dengan benar-benar melakukan;</li>
<li>Kesenjangan antara benar-benar melakukan dengan menghasilkan perubahan secara terus menerus.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Para pembelajar, perancang, pengembang, decision maker pendidikan perlu memahami konsep utuh dari teori yang melandasi belajar dan pembelajaran. Para praktisi dalam dunia pendidikan perlu memiliki kearifan dalam memilih teori mana yang compatible dengan tujuan, karakteristik mata pelajaran, karakteristik pebelajar, kondisi lingkungan serta sarana dan prasarana yang tersedia.</p>
<p><strong>Bahan Baca<br />
</strong>Bell Gredler, E. Margaret.1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali<br />
Degeng, I Nyoman Sudana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta: Depdikbud<br />
Gage, N.L., &amp; Berliner, D. 1979. Educational Psychologi. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally<br />
Gagne, E.D., (1985). The Cognitive Psychology of School Learning. Boston, Toronto: Little, Brown and Company<br />
Light, G. and Cox, R. 2001. Learning and Teaching ini Higher Education. London: Paul Chapman Publising<br />
Marzano, R.J. 1992. Dimensions of Thinking: A Framework for Curriculum and       Instruction. Alexandria: ASCD<br />
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition.  Boston: Allyn and Bacon</p>
<p>- <a href="http://thinktep.wordpress.com/2008/11/10/teori-belajar/" target="_blank">http://thinktep.wordpress.com</a> -</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/part/csc/teori-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KONSEP DIRI</title>
		<link>http://kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/konsep-diri/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/konsep-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 20:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[CSC]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relation]]></category>
		<category><![CDATA[kawanlaba]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[teori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri merupakan tema utama psikologi humanistik. Pendapat Wiliam James menjabarkan konsep diri secara filosofis. James membedakan antara “the I” diri kita yang sadar dan aktif, dan “the me”, diri yang menjadi objek renungan kita.
Brooks dalam Tamsil (2005:10) mendefinisikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita terhadap diri sendiri, yang bersifat fisik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Pengertian Konsep Diri</strong></p>
<p>Konsep diri merupakan tema utama psikologi humanistik. Pendapat Wiliam James menjabarkan konsep diri secara filosofis. James membedakan antara “the I” diri kita yang sadar dan aktif, dan “the me”, diri yang menjadi objek renungan kita.</p>
<p>Brooks dalam Tamsil (2005:10) mendefinisikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita terhadap diri sendiri, yang bersifat fisik, psikologis dan sosial yang datang dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.</p>
<p>Sebelum masuk kepada pembahasan selanjutnya mengenai konsep diri maka berangkat dari pemahaman bahwa konsep diri adalah persepsi diri kita tentang diri kita sendiri maka, penulis akan sedikit memaparkan proses pembentukan persepsi dalam kajian komunikasi Intrapribadi.</p>
<ol>
<li> Stimulus disini bisa diartikan sebagai rangsangan yang bisa berupa hasil dari interaksi, pengiriman pesan/sibol yang bermakna.</li>
<li>Sebelum ter-sensasikan(pengalaman indra menerima stimulus) rangsangat tersebut tentunya membutuhkan</li>
<li>Attention yakni perhatian yang mengarahkan konsentrasi indra pada stimulus tersebut.</li>
<li>Stimuli yang tersensasikan tentunya akan membuahkan kesan, kesan disini dimaknai sebagai keadaan dimana indfidu tersebut memberikan penilaian secara spontanitas. Tentunya berdasarkan norma, aturan, internalisasi masyarakat dan hubungan tertentu.</li>
<li>Kategori disini mewakili proses belajar manusia, dimana saat indifidu mempunyai penilaian berdasarkan proses belajar selama hidup bermasyarakat. Kategori adalah keadaan dimana indifidu tersebut memilah-milah pengalaman penerimaan stimuli yang ternilaikan tadi menjadi hitam-putih, baik buruk, benar-salah, dan pengelompokan lainnya.</li>
<li>Persepsi adalah keadaan dimana kita menyimpulkan seluruh informasi yang kita terima menjadi sebuah kesepakatan subjektif. Dengan menaruhnya sebagai salah satu landasan berprilaku dan menanggapi stimuli serta menghasilkal stimuli kepada indifidu lain.</li>
</ol>
<p>Selanjutnya kita akan membahas konsep diri secara seksama. Chatarina Wahyurini dan Yahya Mashum dalam Modul PKBI Pusat menjabarkannya lebih jelas bahwa konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri. Gambaran pribadi remaja terhadap dirinya meliputi penilaian diri dan penilaian sosial. Dalam konsep diri itupun terdapat beberapa unsur antara lain:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1.</strong> Penilaian diri merupakan pandangan diri kita terhadap:</p>
<ul>
<li>Pengendalian keinginan dan dorongan-dorongan dalam diri. Bagaimana kita mengetahui dan mengendalikan dorongan, kebutuhan dan perasaan-perasaan dalam diri kita.</li>
<li>Suasana hati yang sedang kita hayati seperti bahagia, sedih atau cemas. Keadaan ini akan mempengaruhi konsep diri kita positif atau negatif.</li>
<li>Bayangan subyektif terhadap kondisi tubuh kita. Konsep diri yang positif akan kita miliki kalau kita merasa puas (menerima) keadaan fisik kita. Sebaliknya, kalau kita merasa tidak puas dan menilai buruk keadaan fisik kita maka konsep diri kita juga negatif atau kita jadi memiliki perasaan rendah diri.</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2.</strong> Penilaian sosial merupakan evaluasi terhadap bagaimana kita menerima penilaian lingkungan sosial pada diri kita. Penilaian sosial terhadap diri kita yang cerdas, supel akan mampu meningkatkan konsep diri dan kepercayaan diri kita. Adapun pandangan lingkungan pada kita seperti si gendut, si bodoh atau si nakal akan menyebabkan kita memiliki konsep diri yang buruk terhadap diri kita.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>3.</strong> Konsep lain yang terdapat dalam pengertian konsep diri adalah self image atau citra diri, yaitu merupakan gambaran:</p>
<ul>
<li>Siapa saya, yaitu bagaimana kita menilai keadaan pribadi seperti tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi keluarga atau peran lingkungan sosial kita.</li>
<li>Saya ingin jadi apa, kita memiliki harapan-harapan dan cita-cita ideal yang ingin dicapai yang cenderung tidak realistis. Bayang-bayang kita mengenai ingin jadi apa nantinya, tanpa disadari sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh ideal yang yang menjadi idola, baik itu ada di lingkungan kita atau tokoh fantasi kita.</li>
<li>Bagaimana orang lain memandang saya, pertanyaan ini menunjukkan pada perasaan keberartian diri kita bagi lingkungan sosial maupun bagi diri kita sendiri.</li>
</ul>
<p>Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi (2004:100) juga memaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri, antara lain:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1. Orang lain.</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Sebagai mana dibahasakan diatas bahwa orang lain mempunyai pengaruh terhadap individu dalam menyimpulakan konsep dirinya. Selain itu mengutip pernyataan Gabriel Marcel dalam Rakhmat (2004:100), “The fact is that we can understand ourself by starting from the other, or from others, and only starting from them.” Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu. Bagaimana anda mebilai diri saya akan membentuk konsep diri saya. Kita sepakat bahwa orang lain mempunyai pengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Tetapi, tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Ada yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. George Herbert Mead dalam Rakhmat (2004:101) menyebut mereka Significant others – orang lain yang sangat penting.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2. Kelompok rujukan</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Dalam bermasyarakat kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok masyarakat. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri-ciri kelompoknya.</p>
<p>Brooks dalam Rakhmat (2004:105), mengindentifikasi konsep diri manusia menjadi positif dan negatif. Adapun ciri orang yang memiliki konsep diri negatif :</p>
<ol>
<li>Peka pada kritik</li>
<li>sangat responsif terhadap pujian</li>
<li>Sikap hiperkritis, sikap berlebihan dalam melakukan penilaian terhadap orang lain. ia selalu mencela, mengeluh, meremehkan, dan tak pandai dan tak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain.</li>
<li>Merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, hingga ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tak dapat merasakan kehangatan persahabatan.</li>
<li>Pesimis untuk bersaing dalam sebuah kompetisi.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 30px;">Sebaliknya orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal:</p>
<ol>
<li>Yakin pada kemampuannya mengatasi masalah</li>
<li>Merasa setara dengan orang lain</li>
<li>Ia menerima pujian tanpa rasa malu</li>
<li>Ia sadar, bahwa setiap orang mempunyai berbagai macam perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.</li>
<li>Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.</li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><strong>PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP ATRAKSI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI</strong></p>
<p>Ataksi berasal dari bahasa Latin Attrahere – ad: menuju; trahere; menarik. Ketertarikan indifidu dengan indifidu yang lain, kecenderungan indifidu memilih dengan siapa ia berkomunikasi, sikap positif dan daya tarik seseorang itulah yang kita sebut sebagai atraksi antarpribadi(interpersonal (Rakhmat 2001: 103).</p>
<p>Untuk itu Sudah jelas bahwa konsep diri pun akan mempengaruhi Atraksi komunikasi Antarpribadi. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:</p>
<p style="padding-left: 30px;">1. Setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri disebut sebagai nubuat yang dipenuhi sendiri (Rakhmat 2001:104).</p>
<p style="padding-left: 30px;">Dalam hubungannya dengan Daeng Sahabu dan Sitti Maidah. Apabila mereka merasa dirinya sebagai manusia yang baik ia akan berusaha bertingkah laku yang baik, jika mereka menganggap diri mereka bertanggung jawab mereka akan mengurusi satu sama lain dengan apiknya, apabila mereka merasa rendah diri maka mereka akan mereka akan mengalami kesulitan dalam mengkomunikasikan gagasannya terhadap sesama.</p>
<p style="padding-left: 30px;">2. Membuka Diri</p>
<p style="padding-left: 30px;">Pengetahuan akan dirikita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi lebih dekat dengan kenyataan.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Hubungan antara konsep diri dan membuka diri dapat dijelaskan dengan model Johari Window</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-171" title="johari_window1" src="http://kosmik.web.id/wp-content/uploads/2009/05/johari_window1.png" alt="johari_window1" width="548" height="437" /></p>
<p>Model ini menerangkan bahwa jendela yang satu tidak terpisah dengan jendela yang lain. pembesaran pada satu jenis jendela akan membuat jendela yang lain akan mengecil.</p>
<ul>
<li>Open self, menyajikan informasi, perilaku, sifat, perasaan, keinginan motif, dan ide-ide yang diketahui/disadari oleh diri kita dan orang lain.</li>
<li>Blind self, bagian ini menyajikan hal-hal tentang diri kita yang diketahui/disadari orang lain namun tidak diketahui/disadari oleh diri kita sendiri.</li>
<li>Hidden self, bagian ini berisikan tentang data-data yang kita ketahui/sadari dari dalam diri kita sendiri dan tidak diketahui oleh orang lain. yang kita simpan untuk diri kita sendiri.</li>
<li>Unknown self, bagian ini merupakan aspek dari diri yang tidak kita ketahui ataupun orang lain mengetahuinya.</li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;">Makin luasnya open self seseorang, makin terbuka pula ia pada orang lain. hal tersebut menjadikan hubungan di antara keduanya semakin erat.</p>
<p style="padding-left: 30px;">3. Percaya Diri</p>
<p style="padding-left: 30px;">Keinginan untuk menutup diri, selain karena konsep diri yang negatif timbul dari kurangnnya kepercayaan akan kemampuan dirinya sendiri. orang yang tidak menyenangi dirinya merasa bahwa dirinya tidak mampu mengatasi persoalan. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai Communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi, akan menarik diri dalam pergaulan, berusaha sekecil mungkin berkomunikasi, dan akan berbicara apabila terdesak saja. Tentu saja dalam aprehensi komunikasi disebabkan kurangnnya percaya diri; tetapi sebagai faktor dominan. Seperti pernyataan Maxwell Maltz dalam Rakhmat (2004:109) “ Belive in yourself and you’ll succed.”</p>
<p style="padding-left: 30px;">4. Selektivitas</p>
<p style="padding-left: 30px;">Menurut Anita Taylor dalam Rakhmat (2004:109) Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa Kita bersedia membuka diri, bagaimana kita mempersepsikan pesan itu dan apa yang kita ingat. Secara singkat Rakhmar (2004:109) mengungkapkan bahwa konsep diri menyebabkan terpaan selektif, persepsi selektif, ingatan selektif.</p>
<p><a href="http://kawanlaba.wordpress.com/2008/04/15/konsep-diri/" target="_blank">http://kawanlaba.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/konsep-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Antar Pribadi</title>
		<link>http://kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/komunikasi-antar-pribadi/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/komunikasi-antar-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 19:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[CSC]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relation]]></category>
		<category><![CDATA[kawanlaba]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[teori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

Pengertian Komunikasi

Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi untuk kontak sosial. Melalui komunikasi seseorang tumbuh dan belajar, menemukan pribadi kita dan orang lain, kita bergaul, bersahabat, bermusuhan, mencintai atau mengasihi orang lain, membenci orang lain dan sebagainya.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris Communication [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;"><strong>KOMUNIKASI ANTARPRIBADI</strong></p>
<ol style="margin-top: 0pt;" type="1">
<li class="MsoNormal">Pengertian Komunikasi</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;">Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi untuk kontak sosial. Melalui komunikasi seseorang tumbuh dan belajar, menemukan pribadi kita dan orang lain, kita bergaul, bersahabat, bermusuhan, mencintai atau mengasihi orang lain, membenci orang lain dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;">Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris<em> Communication</em> berasal dari bahasa Latin <em>Communicatio</em>, dan bersumber dari kata <em>Communis </em>yang berarti sama atau sama makna.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;">Secara sederhana komunikasi dapat dirumuskan sebagai proses pengoperan isi pesan berupa lambang-Iambang dari komunikator kepada komunikan. Pengertian komunikasi menurut Dale Yoder, dkk dalam Surakhmat (2006:17), <em>Communication is the interchange of information, ideas, attitudes, thoughts, and/or opinions</em>. <span>Komunikasi adalah pertukaran informasi, ide, sikap, pikiran dan/atau pendapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;"><span>Berangkat dari definisi tersebut di atas, komunikasi berarti sama-sama membagi ide-ide. Apabila seseorang berbicara dan temannya tidak mendengarkan dia, maka di sini tidak ada pembagian dan tidak ada komunikasi. Apabila orang pertarna menulis dalam bahasa Inggris dan orang kedua tidak dapat membaca bahasa Inggris, maka tidak ada pembagian dan tidak ada komunikasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;"><span>Pada dasarnya komunikasi tidak hanya berupa memberitahukan dan mendengarkan saja. Komunikasi harus mengandung pembagian ide, pikiran, fakta atau pendapat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;"><span>Ahli-ahli ilmu Jiwa juga menaruh perhatian terhadap komunikasi, Mereka menekankan masalah-masalah kemanusiaan yang terjadi dalam proses komunikasi tentang memprakarsai, menyampaikan, dan menerima informasi. Mereka juga memusatkan perhatian pada pengenalan rintangan-rintangan yang terhadap komunikasi yang baik, khususnya rintangan-rintangan yang bersangkutan dengan hubungan antar perseorangan dari orang-orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;"><span>Adapun komunikasi terdiri dari enam jenis sebagaimana berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>A.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Komunikasi intrapersonal, yaitu komunikasi dengan diri sendiri, baik disadari maupun tidak</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>B.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Komunikasi antarpribadi (interpersonal), yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal. Bentuk khusus dari komunikasi antar pribadi adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang saja.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>C.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Komunikasi Kelompck, yaitu sekumoulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sa:m:l lain l’ntuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka bagian dari kelompok tersebut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>D.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Komunikasi Publik, yaitu komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah besar orang (khalayak) yang tidak dikenal satu persatu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>E.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Komunikasi Organisasi, komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi, yang bersifat informal dan berlangsung dalam jaringan yang lebih besar dari pada komunikasi kelompok.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>F.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Komunikasi Massa, yaitu yang menggunakan media massa, baik cetak atau e!ektronik, yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat, anonim dan heterogen. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span>Jenis komunikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi antarpribadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Komunikasi Antarpribadi </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Komunikasi merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi dan untuk kontak sosial. Melalui komunikasi kita tumbuh dan belajar, kita menemukan pribadi kita dan orang lain, kita bergaul, bersahabat, menemukan kasih sayang, bermusuhan, membenci orang lain, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Komunikasi tidak lain merupakan interaksi simbolik. Manusia dalam berkomunikasi lebih pada memanipulasi lambang-lambang dari berbagai benda. </span><span style="font-weight: normal;">Semakin tinggi tingkat peradaban manusia semakin maju orientasi masyarakatnya terhadap lambang-lambang.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Liliweri (1997:13) dalam Tamsil (2005:8) menyebutkan beberapa ciri komunikasi antarpribadi, yaitu:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>1.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Arus pesan dua arah.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>2.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Konteks komunikasi adalah tatap muka.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>3.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Tingkat umpan balik yang tinggi.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>4.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Kemampuan untuk mengatasi tingkat selektivitas yang tinggi.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>5.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Kecepatan untuk menjangkau sasaran yang besar sangat lamban.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>6.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Efek yang terjadi antara lain perubahan sikap.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Perlu juga sebelum mendefinisikan komunikasi antarpribadi kita harus memahami perbedaan komunikasi antarpribadi dan komunikasi non antarpribadi. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Asumsi dasar komunikasi antarpribadi adalah bahwa setiap orang yang berkomunikasi akan membuat prediksi pada data psikologis tentang efek atau perilaku komunikasinya, yaitu bagaimana pihak yang menerima pesan memberikan reaksinya. Jika menurut persepsi komunikator reaksi komunikan menyenangkan maka ia akan merasa bahwa komunikasinya telah berhasil.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Setiap berkomunikasi dengan orang lain kita secara tidak langsung membuat prediksi tentang efek dan prilaku komunikasinya. Menurut Miller ada tiga tingkatan analisis yang digunakan dalam melakukan prediksi, yaitu: tingkat kultural, tingkat sosiologis, dan tingkat psikologis.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Analisis pada tingkat kultural. Untuk itu kita seharusnya menyamakan pemahaman dulu tentang konsep kultur atau budaya. Budaya adalah akal budi manusia, yang pada analisis ini individu tersebut berusaha menyamakan persepsi pada tataran karya akal budi manusia yang terikat dalam bahasa, kebiasaan, norma sosial yang berlaku dimasyarakat tersebut, serta hal-hal mengenai penggolongan kultur tertentu terhadap sifat-sifat yang mengikutinya berdasarkan <em>stereotype</em>. Contoh: disuatu sore penulis bertemu pak Ujo yang sedang lari-lari kecil. Ia menyapa saya dengan hangat saat saya duduk dipinggir lapangan bola Universitas Hasanuddin Makassar. “Ghak lari dhe? Bhiar sehat. Yuu!!”. Persepsi awal penulis terhadap pak Ujo adalah orang suku Jawa, berdasarkan gaya bahasa dan penekanan kata.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Analisis pada tingkat sosiologis. Pada analisis ini individu untuk itu tingkat analisis ini lebih kepada generalisasi rangsangan berdasarkan kerangka pengalaman dan kerangka intelektual yang dihubungkan antara karakteristik objek pengamatan kepada kelompok sosial tertentu. Maksudnya, pada tahapan ini individu melakukan prediksi berdasarkan generalisasi masyarakat secara umum terhadap karakteristik objek pengamatan. </span><span style="font-weight: normal;">Kecirian yang diikuti pemberian label menjadi jawaban dari penilaian sementara individu tersebut. Contoh: saat pak Ujo selesai menyapa, saya pun tersenyum, sebelum membalas sapaan pak Ujo saya mengamati karakteristik pak Ujo: berkepala botak, berkacamata yang mempunyai rantai, serta berperut melebar. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa pak Ujo adalah seorang dosen sekelas profesor. “iye pak, lagi tidak enak badan ki saya pak” dengan tubuh sedikit membukuk dan senyuman yang disulap sedemikian rupa agar terlihat tulus.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Analisis pada tingkat psikologis. Apabila prediksi/prakira yang dibuat komunikator terhadap reaksi komunikan sebagai akibat menerima suatu pesan didasarkan atas analisis pengalaman individual yang unik dari komunikan, maka dapat diaktakan komunikator melakukan prediksi pada tataran psikologis.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Tiap indifidu mempunyai watak dan kepribadian yang tak sama dengan orang lain, karena ini merupakan hasil tempaan dan terbentuk berdasarkan pengalaman dimasa lalu. Apabila dua individu yang melakukan komunikasi bisa saling mengerti dan memahami kepribadian dan watak masing-masing, baru dapat dikatakan bahwa satu sama lain dalam berkomunikasi melakukan prediksi atas data psikologis. Selain itu, pada tataran ini kedua individu yang melakukan interaksipun telah mengalami pembiasan norma yang berlaku diantara mereka. Yang tadinya pada tataran kultural dan sosiologis kedua individu tersebut masih berinteraksi dengan menggunakan norma konvensional yang berlaku dimasyarakat, tetapi pada tataran psikologis individu yang beriteraksi menggunakan norma relational yang hanya dipahami oleh mereka berdua berdasarkan pengalaman dari pola dan kesepakatan mereka berdua.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Atas dasar uraian diatas, maka dapat dibedakan antara komunikasi antarpribadi dengan komunikasi non antarpribadi. Apabila prediksi mengenai hasil komunikasi didasarkan pada analisis tingkat atau tataran psikologis, maka pihak-pihak yang berkomunikasi terlibat dalam komunikasi antarpribadi, begitu pula sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Dari beberapa uraian diatas berdasarkan ciri dan perbedaan komunikasi antarpribadi dan non-antarpribadi maka penulis berusaha mencirikan komunikasi antarpribadi sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>1.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Prediksi pada tataran psikologis</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>2.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Konteks komunikasi adalah tatap muka</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>3.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Terjadi pada ruang lingkup indifidu yang sempit(sedikit orang)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>4.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Norma yang berlaku cenderung relational</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>5.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Arus pesan dua arah</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>6.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Komunikasi antarpribadi adalah verbal dan non-verbal.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>7.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">komunikasi antarpribadi saling mempengaruhi dan mengubah</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Dari uraian serta rangkuman ciri dari komunikasi antarpribadi, penulis mendefinisikan komunikasi antarpribadi sebagai sebuah interaksi tatap muka secara verbal dan non-verbal pada tataran psikologis antara individu yang satu dengan individu yang lain, yang memiliki norma relational berdasarkan kesepakatan individu-individu tersebut, dimana arus pesan terjadi dari dua arah secara aktif serta saling mempengaruhi dan mengubah satu sama lain.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Tatap muka, penulis memaknai pengertian yang diberikan Deddy Mulyana dalam bukunya penganta ilmu komunikasi sebagaimana tatap muka mempunyai sebuah efek lebih kepada indifidu yang melakuakan aktifitas kumunikasi. </span><span style="font-weight: normal;">Serta lebih kepada penekanan analisa apa yang dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Verbal dan non verbal berangkat dari pemahaman bagaimana pesan itu dikemas, seperti komunikasi pada umumnya selalu mencakup dua unsur pokok; isi pesan dan bagaimana isi itu dikatakan, baik secara verbal(tersurat) maupun non verbal(tersirat).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Tataran psikologis yang dimaksud sepaham dengan penjabaran Miller dan Steinberg (1975) dalam Jurnal Komunikasi Antarpribadi Universitas Terbuka (hal 4), bahwa pada tataran psikologislah suatu komunikasi bisa dikatakan komunikasi antarpribadi.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Hubungan relational berangkat dari pendapat Milller dalam Rakhmat (2004:119):</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify;"><em><span style="font-weight: normal;">Understanding the interpersonal communication process demands an understanding of the symbitic relationship between communication and relational development: comunication influences relational development , and in turn(simoultaneously), relational development influences the nature communication between parties to the relationship.</span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify;"><span style="font-weight: normal;">(memahami proses komunikasi interpersonal(antarpribadi) menuntut pemahaman hubungan simbiotis antara komunikasi dengan perkembangan relational: komunikasi mempengaruhi perkembangan relational, dan pada gilirannya(secara serentak), perkembangan relational mempengaruhi sifat komunikasi antar pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 200%;">Setelah kita memahami pengertian komunikasi antarpribadi, dalam perjalanannya antara komunikasi antarpribadi kepada sebuah konsep diri sebaiknya kita memberikan sedikit pemarapan tentang ciri komunikasi antarpribadi yang efektif menurut de Vito dalam Tamsil (2005:30) :</p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>1.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Keterbukaan (<em>Opennes</em>)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Sikap keterbukaan paling tidak menunjuk pada dua aspek dalam komunikasi antarpribadi. Pertama, kita harus terbuka pada orang lain yang berinteraksi dengan kita, yang penting adalah adanya kemauan untuk membuka diri pada masalah-masalah yang umum, agar orang lain mampu mengetahui pendapat, gagasan, atau pikiran kita sehingga komunikasi akan mudah dilakukan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Kedua, dari keterbukaan menunjuk pada kemauan kita untuk memberikan tanggapan terhadap orang lain secara jujur dan terus terang terhadap segala sesuatu yang dikatakannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>2.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Positif (<em>Positiveness</em>)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Memiliki perilaku positif yakni berpikir positif terhadap diri sendiri dan orang lain.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>3.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Kesamaan (<em>Equality</em>)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Keefektifan komunikasi antarpribadi juga ditentukan oleh kesamaan-kesamaan yang dimiliki pelakunya. Seperti nilai, sikap, watak, perilaku, kebiasaan, pengalaman, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>4.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Empati (<em>Empathy</em>)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada posisi atau peranan orang lain. dalam arti bahwa seseorang secara emosional maupun intelektual mampu memahami apa yang dirasakan dan dialami orang lain.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-weight: normal;"><span>5.<span style="font-family: &quot;font-style; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-weight: normal;">Dukungan (<em>Supportiveness</em>)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;">Komunikasi antarpribadi akan efektif bila dalam diri seseorang ada perilaku supportif. Maksudnya satu dengan yang lainnya saling memberikan dukungan terhadap pesan yang disampaikan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-weight: normal;"><a href="http://kawanlaba.wordpress.com/2008/04/15/41/" target="_blank">- http://kawanlaba.wordpress.com -</a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/ilmu-komunikasi/komunikasi-antar-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berawal dari sore itu saja&#8230;</title>
		<link>http://kosmik.web.id/part/csc/berawal-dari-sore-itu-saja/</link>
		<comments>http://kosmik.web.id/part/csc/berawal-dari-sore-itu-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 18:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[CSC]]></category>
		<category><![CDATA[aktifitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kosmik.kampusmerah.web.id/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[
Finally acara peluncuran buku almarhum dosen saya, Bpk Mansyur Semma selesai juga hari ini. Syukur ya Allah!
Istri almarhum, Ibu Arfah Tjolleng, tak henti-hentinya menangis haru di sepanjang acara. Bagaimana tidak? Yang dibicarakan di sepanjang acara juga adalah kekasih hatinya, yang telah meninggalkan dirinya dengan keempat anaknya yang masih sekolah, yang istilah kata belum mandiri lah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-67" title="26ca" src="http://kosmik.kampusmerah.web.id/wp-content/uploads/2009/05/26ca-300x199.jpg" alt="26ca" width="300" height="199" /></p>
<p>Finally acara peluncuran buku almarhum dosen saya, Bpk Mansyur Semma selesai juga hari ini. Syukur ya Allah!</p>
<p>Istri almarhum, Ibu Arfah Tjolleng, tak henti-hentinya menangis haru di sepanjang acara. Bagaimana tidak? Yang dibicarakan di sepanjang acara juga adalah kekasih hatinya, yang telah meninggalkan dirinya dengan keempat anaknya yang masih sekolah, yang istilah kata belum mandiri lah. Beliau juga tidak henti-hentinya berterima kasih kepada kami, seluruh panitia yang sudah berkorban waktu, tenaga dan materi untuk membantu kesuksesan acara ini. Mungkin beliau merasa, kata terima kasih saja tidak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagia hatinya.</p>
<p>Acara yang juga sudah membuat Nendenk, saya dan sebagian panitia menjadi kurusan, akibat dari mondar- mandir sepanjang kampus mengurus ini itu, tetek bengek urusan launching, sempat jadi jutek, marah-marah tanpa alasan, stress, depresi dan gangguan lainnya. But you know what? Semua hal itu jadi tidak masalah lagi setelah melihat para tamu yang datang tadi sore di PKP. Karena, kursi yang disediakan panitia tidak cukup. Kuota tamu yang datang melebihi apa yang diperkirakan panitia. Kami, atau hanya saya saja?, sangat gembira dan bersyukur.</p>
<p>Acara yang memberikan saya pengalaman menjadi sekretaris yang baik. Acara yang membuat saya tahu bahwa untuk membuat satu acara saja itu birokrasinya minta ampun susahnya. Tapi memungkinkan untuk tetap dicoba. Acara yang menjadikan saya lebih dekat dengan senior dan kanda-kanda di Kosmik. Acara yang mengajari saya kerja sebagai satu tim. Acara yang merupakan pengalaman seumur hidup, yang membuat saya bangga masuk dan menjadi bagian dari Komunikasi Unhas. Lagi-lagi saya bersyukur.</p>
<p>Terlalu banyak hal untuk disyukuri.<br />
Terima kasih kepada Kak Debra, yang pada sore itu meminta saya menjadi panitia Launching Buku, yang ternyata panitia artinya sekretaris&#8230;, well that means she trusted me, didn&#8217;t she?</p>
<p>Terima kasih karena berawal dari sore itu saja, saya dapat banyak pengalaman dan pertemuan baru&#8230;</p>
<p>-<strong>sunshine only</strong>-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kosmik.web.id/part/csc/berawal-dari-sore-itu-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
