Nurani 2008, dari malakaji turun ke hati #4
Nurani 2008, dari malakaji turun ke hati (hari Kedua)
(Jum’at, 16 januari 2009)
- malakaji, gowa -
Derap-derap langkah kaki terdengar sangat dekat di telinga membuat saya terbangun. Wah tak terasa saya tertidur di depan televisi di dapur itu. Setelah lambaian tangan si gadis pirang semalam, saya hanya ingat si himas (kosmik 06) masih menelpon hingga larut malam. Sempat juga saya mendapati sang ketua korps berlalu lalang antara kantor desa, dapur, hingga baruga karena susah tidur. Mungkin beliau memikirkan warga kosmik yang mulai berjatuhan sakit, terutama para maba. Sebenarnya sejak sore kemarin sudah ada satu orang maba yang sakit. Entah sakit apa. Tapi kurasa, satu lagi bumbu pelengkap Nurani dari ke tahun mulai terasa sekarang, yaitu adanya orang sakit. Dari informasi yang saya dengar, maba tersebut bernama sabda. Bukan Sabda Taro Trinarta.
Baru saja saya melangkahkan kaki keluar dari dapur, terdengar sapaan dari arah luar. selamat pagi kak! koor bersamaan dari jo dan si gadis pirang. Senyum sumringah mereka menambah segar pagi ini. Ternyata disitu ada juga debra dan beberapa orang maba. Saya menuju keran air untuk mencuci muka. Ketika saya tak sengaja melihat ke lapangan, disana banyak anak-anak kosmik sejak membenahi beberapa tenda kecil sudah agak tak karuan bentuknya. Mungkin karena semalam di hantam angin dan hujan.
Agaknya derajat dingin malakaji tidak berubah-rubah, walaupun hari sudah pagi seperti ini, tubuh rasanya tetap ditusuk-tusuk hawa es. Ingin rasanya kembali tidur lagi kalau saja tidak ada panggilan jiwa untuk menemani jo dan si rambut pirang yang sekarang berada di depanku. Apalagi ditambah kehadiran satu orang lagi. Ya, dari pintu kantor desa itu ku lihat gadis berjilbab yang menyapaku di awal kedatangan kami disini sedang bersiap-siap keluar menuju dapur ini.
Saya sudah dapat menebak isi dari panci yang sedang dimasak jo dan gadis pirang. Pasti nasi untuk makan siang nanti. Disebelahnya ada air dalam dandang lebih tinggi. Gadis pirang masih dalam sweater hitam dan celana yang sama. Begitu pula jo, hanya kali ini dia menggulung celana agak tinggi hingga kelihatan paha. Ketika Jo bergerak kesana kemari, debra menertawainya, tetapi hanya tertawa kecil. Debra sempat berkata pelan kepadaku : Jo pelayan seksi sambil tertawa kembali.
Hari semakin siang, tetapi dingin tetap tak berkurang-kurang. Hujan turun lagi. Anak-anak yang sedang membenahi tenda menyudahi pekerjaannya kemudian berlarian kearah dapur dan kantor desa. Ada juga yang berteduh di tenda besar. Beberapa tenda kecil sudah dapat berdiri kembali, tetapi masih ada beberapa yang rusak dan belum sempat diperbaiki.
Hooi!! Wisata biro!!!, mau mi dimulai!!! teriakan itu ku dengar dari arah kantor desa, kak wanto memanggil maba yang akan ikut agenda tersebut. Dari penjelasan debra, kuketahui agenda wisata biro dibagi perkelompok. Jadi tidak semua maba ikut dalam satu biro. Format acaranya adalah penjelasan dari pejabat biro,club dan kelompok (dalam hal ini pengurus kosmik) akan fungsi, kelebihan dan apa saja yang bisa di dapat dari biro tersebut. kemudian kelompok-kelompok maba itu akan mempersentasekan tugas yang telah diberikan sebelumnya oleh biro tersebut. Agenda acara ini akan berlangsung hingga hari terakhir nanti.
Dapur makin rame, celoteh suara maba dari dalam yang sedang menggoreng, mengiris bawang, mencucui piring, campur aduk dengan suara cara gossip dari televisi bersama komentar-komentar dari penontonnya. Riuh rendah dari ruang depan juga terdengar sampai disini. Berbeda dari suasana di baruga. Agak sunyi, yang terdengar hanyalah suara bantingan kartu domino dan nyanyi-nyanyi kecil dalam iringan gitar yang entah oleh siapa. Saya sempat melihat kak patang masih asyik bermain domino bersama kak madi, kak adri, kak jaya, dan kak munir.
Jo mengangkat tutup panci nasi, asap putih tebal keluar menyerbak menebarkan harum khas beras matang. Anak-anak kosmik di sekitar berkumpul menyerap aroma dan kehangatan dari situ. Si gadis berjilbab itu pun tak ketinggalan. Mesikpun tak bersandal, ia melangkah maju mendekati api, tapi masih ragu-ragu. Si gadis pirang memanggilnya lebih dekat. Dari arah belakang, isal dan arshanty mendekat. Masih dengan sarung hijau khas butonnya, senyum isal mengembang. Matanya pun jadi tak kelihatan. Sementara arshanty dengan 2 jacket di badannya. Semalam dia kedinginan karena jacket miliknya dipinjam temannya. Maka pagi ini dia balas dendam.
Lidah jo ternyata sangat jitu dalam menentukan kematangan nasi yang baru saja diangkat. Mifda, si mandor dapur bergegas menyongsong panci bersama seorang temannya lagi. Karena tak ada sendok besar, maka nasi di pindahkan menggunakan piring ke bakul. Lalu dibagi-bagi ke piring makan secukupnya. Kak lisda kebetulan juga ada disitu. Ia turun tangan membagi-bagikan lauk yang ada. Kepada maba lain yang bertugas mengantarkan makanan, ia mengingatkan agar senior-senior didahulukan.
Arshanty,debra, isal dan saya makan bersama di depan api. Jo, gadis pirang, mifdah, feny dan ari yang datang belakangan bergabung ikut makan bersama kami. Sementara si gadis berjilbab entah pergi kemana lagi setelah menghangatkan tubuhnya tadi. Saya tidak tahu kalau Nama gadis berjilbab itu sangat indah. Jo menyebutnya ketika menanyakan keberadaan gadis jilbab itu pada gadis pirang sebelum memasukkan suapan pertama makanan ke mulutnya.
Ada dua sebutan untuk dunia dalam kehidupan ini. Satu dunia nyata, dan satunya lagi adalah sebutan untuk dunia virtual, atau dunia internet. Nama gadis bejilbab itu adalah sebutan untuk dunia yang kedua itu. Dunia baru dengan tarikan yang sungguh kuat, tanpa batas dan teritori menjangkau keseluruh pelosok wilayah hingga daerah pribadi sekalipun. Dunia dengan kendali-kendali serat optic dan sinyal satelit serta kabel bawah tanah yang membentang dari ujung benua amerika hingga pedalaman Madagascar. Dari tebing tinggi jaya wijaya menuju terusan suez. Darinya kita mengetahui kabar pada detik yang sama saat ini pembantaian di jalur gaza, euforia obama di amerika dan penampakan gerhana matahari cincin yang pada tanggal 26 januari nanti akan bersamaan dengan penyambutan tahun cina. Keindahan beserta pesonanya seperti terpancar dalam nama gadis berjilbab itu.
(Bersambung)









Bagi teman-teman warga KOSMIK yang ingin karyanya di tampilkan di website ini, hubungi tim website atau koordinator CCC (Communication Cyber Club)
If you like what we do, please don't hestitate and subscribe to our