Nurani 2008, dari malakaji turun ke hati #5

Jan 18, 2009 No Comments by admin

Nurani 2008, dari malakaji turun ke hati (malam kedua, malam persembahan)
(Jum’at, 16 januari 2009)
- malakaji, gowa -

Perut saya masih terasa lapar meski siang tadi selepas shalat jum’at sudah diisi. Sewaktu saya mengambil jaket di baruga, terdengar suara raungan motor dari arah pintu masuk menuju area lokasi nurani ini. Kiranya motor tersebut sedang berusaha keras mendaki tanjakan pintu masuk yang agak berlumpur. Setelah motor tersebut berhasil naik sampai ke depan baruga. Dengan warna dominasi biru bermerk scorpio, tahulah saya yang datang itu adalah kak cido bersama kak ina. Di belakangnya masih ada lagi. Satria kombinasi merah dan putih. Tidak salah lagi itu pasti kak ifzan, dan boncengannya, kak yuda. Gerimis pelan-pelan turun membasahi menyambut kedatangan mereka. Taro sempat berseru : aihh ada mi kak cido, jadi jurit malam nanti.

Setelah memarkir motor, mereka langsung menuju kearah lapangan, kemudian memasang tenda di dalam tenda besar itu. Sementara itu anak-anak kosmik lain terlihat kembali memperbaiki tenda-tenda kecil. Gerimis yang tadinya pelan-pelan berubah menjadi hujan lebat. Pekerjaan memperbaiki tenda tetap berlangsung. Dingin pun makin menjadi. Tetapi satu-satunya obat bagi kondisi cuaca seperti itu kalau tidak ada api untuk menghangatkan adalah terus bergerak. Saya pun mengikuti anak-anak kosmik lain membantu mendirikan kembali tenda yang ambruk. Kak ifzan juga terjun langsung mematok dan mengikat tali-tali yang putus. Bergerak terus agar tidak menggigil.

Entah berapa lama sudah kami di lapangan itu. Ketika hujan mulai reda, hari sudah mulai gelap. Saya kembali ke dapur membersihkan badan dengan air dari selang. Saya tidak mendapati si gadis pirang lagi. Jo pun juga tidak ada. Anak-anak maba yang memasak nasi telah menggunakan kompor dikarenakan kayu bakar sudah habis. Sekitar lima belas menit kemudian, adzan magrib pun terdengar.

Selepas magrib saya kembali duduk duduk di depan dapur. Saya menghangatkan badan dekat tungku. Masih ada sisa-sisa bara api dari kayu bakar kecil-kecil disitu. Dari dalam Debra perlahan mendekat bersama isal dan arshanty dan ari. Sambil menunggu menu makan malam yang sementara disiapkan maba, kami ngobrol ngalar ngidul. Arshanty memanggil beberapa maba yang duduk-duduk agak jauh dari situ agar mendekat bergabung bersama kami. Kabarnya malam ini adalah malam persembahan. Acara hiburan yang diisi oleh maba 2008. kalau di nurani-nurani sebelumnya, acara malam persembahan biasanya di malam terakhir. Sedangkan malam pertama adalah acara jurit, dimana bentakan dan hardikan adalah hal biasa dalam sebuah pengkaderan. Namun sejak kebijakan rektorat mulai tahun 2006 silam, semua pengkaderan dalam bentuk perpeloncoan, apalagi kekerasan sangat dilarang. Konsekuensi bagi para pelanggar adalah skorsing bahkan pemecatan. Ini sangat bertentangan dengan format pengkaderan kosmik yang memang keras dalam mendidik kader-kadernya demi menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan  dan persaudaraan. Mungkin itu hanya pandangan saya saja, tetapi selama ini saya bisa merasakan manfaat pengkaderan masa lalu itu. Entah para pencinta damai kurang setuju dengan saya atau tidak. Saya hanya menganggap bentakan, rasa tertekan dan sejenisnya itu terasa pada saat itu saja. Selebihnya sampai sekarang, nilai rasa yang sama dalam satu penderitaan mengikat kuat dalam hati saya. Saya juga tidak dapat menyalahkan kepada anggapan bahwa nilai kebersamaan seperti itu tidak mesti ditanamkan dengan cara-cara kekerasan. Bukan persoalan siapa yang mengalami dan siapa yang tidak. Saya hanya berharap langkah rektor dalam membuat kebijakan seperti ini dapat dipahami semua pihak.

Hawa hangat khas kuah mie dan nasi tercium oleh hidung saya, arshanty membawakan sepiring buat saya. sambil menikmati santapan malam, kaki kami berselonjor mengarah ke bara api yang tinggal satu-satu itu. Nikmatnya suasana makan seperti ini tidak akan didapati di restoran manapun. Ketika sedang asyik menyendok nasi ke dalam mulut, tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang, ketika saya berbalik, si gadis pirang lagi rupanya. Dia tersenyum dan berkata pelan, nasinya bukan saya yang masak itu. Wah! sekarang saya baru menyadari arti celutukan seseorang tadi sebelum makan, entah siapa. Mungkin Jo. Katanya : nasinya ini kadang” ternyata yang dimaksud adalah kadang masak kadang tidak. Saya tertawa sendiri dalam hati, nasi ini memang terasa agak kurang matang. Tapi tak apalah, kalau sudah lapar begini, hantam saja. Daripada kelaparan. Seorang maba lain juga ikut nyelutuk, “liat ko itu di jalur gaza, anak-anak tidak makan. Sementara bom berjatuhan diluar rumahnya”

Entah kenapa kalau makan rame-rame seperti ini, saya lebih cepat kenyang. Meski saya tahu pasti setelahnya akan lapar lagi. makanan di piring saya sudah habis dansaya tidak berniat untuk menambahnya lagi. apalagi suara hiruk pikuk sound system berpadu dengan dentingan gitar telah terdengar dari arah baruga. Acara sudah mau dimulai rupanya. Bersama arshanty, isal, debra dan ari, kami bergegas menuju kesana. Melalui tanah becek yang membentang kami melangkah pelan-pelan satu persatu. Ari membawa segelas air untuk cuci kaki disana nanti.

Cahaya lampu di baruga itu agak remang-remang. Dalam radius 3 meter saja orang tidak kelihatan. Tetapi dalam kebersamaan seperti ini, kita tidak perlu mencari kawan lagi. semua yang ada di dekatmu itu lebih dari saudara. Saling menguatkan, saling menjaga. Dari arah tengah baruga, terlihat taro sedang memainkan gitar mengiringi alunan vocal mbak sisca menyanyikan lagu “kepompong”. Dengan medok jawanya yang tidak hilang-hilang sejak pertama kali datang ke makassar, mbak memimpin kami dalam lirik “persahabatan bagai kepompong!, membuat ular menjadi kupu-kupu”. Ada yang tertawa geli, terbahak-bahak tetapi ada juga yang berpegang tangan tenggelam dalam haru. Arshanty di sebelahku hanya diam tetapi wajahnya senyumnya tak lepas-leps menghayati lagu itu. Kami sempat kehilangan isal ketika mencari tempat tadi, arshanty hanya diam saja mengawasi sambil berkata:  “tenang, tenang!! isal itu gampang di dapat. Cari saja jilbab yang paling tinggi, dia pasti kentara dalam gelap. Kami pun melihat isal di barisan ketiga bersama teman-temannya yang lain.

Satu persatu maba-maba telah datang menempati posisi duduk mereka agak di depan. Acara pun siap dimulai. Saya mencoba mencari-cari si gadis pirang dan gadis berjilbab diantara barisan maba-maba itu, tetapi sukar rasanya menentukan posisi mereka dalam jarak pandang seperti ini. Akhirnya saya memutuskan untuk menikmati saja suguhan penampilan dari mereka.

Seperti halnya,acara-acara lainnya, persembahan ini pun dimulai dengan pembukaan berupa pemutaran video klip buatan maba 08. Klip ini berisikan foto-foto perjalanan mereka sejak pertama kali masuk hingga Nurani ini. Ada juga Video klip dengan lagu milik Run dan laskar pelangi milik Nidji. Hanya saja kali ini dalam balutan kreasi Maba 08. tidak tanggung-tanggung, mereka sendiri yang membintangi video klip itu. Penonton terpingkal-pingkal menyaksikan aksi dan gaya mereka terutama gaya dari Rawe, seorang maba paling kecil diantara mereka.

Acara berlanjut kepada teater. Bisa juga dibilang lawakan karena ada unsur-unsur lucunya. Entah bisa disebut lucu atau tidak, tetapi buktinya kita tetap tertawa. Kisahnya tentang seorang bangsawan yang akan mati. Bangsawan ini diperankan oleh angga, dia merupakan salah satu pemeran maba yang saya tahu. Karena dia besar sehingga mudah dikenali diantara kawan-kawannya.  Bangsawan ini memiliki 3 putri pewaris hartanya. Tetapi ada suatu syarat agar harta itu bisa jatuh ke tangan putri-putri ini, yaitu harta harus di bagi secara sama rata pada 4 orang. Karena mereka (putri-putri itu) hanya berjumlah 3, maka mereka memutar otak bagaimana caranya mencari seorang lagi agar harta itu bisa dibagi empat. Singkat kata, mereka mencari petunjuk hingga pada seorang dukun sakti. Tetapi sang dukun sakti tidak dapat membantu mereka, hanya menyarankan mereka  untuk menanyakan pada seorang kiayi.

Maba lain yang saya ketahui dalam pentas ini adalah Uki. Dialah pemeran sang kiayi. Dengan gaya meyakinkan, Uki memerankan kiayi seperti kiayi tulen. Cara bicaranya dalam mengeluarkan fatwa-fatwa membuat penonton tertawa. Tibalah tiga putrid bangsawan tadi menghadap sang kiayi. Disinilah beberapa nilai sesungguhnya dari pertunjukkan ini saya bisa tangkap. Diantaranya adalah menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang muda. Akhir cerita itu tidak begitu saya mengerti karena sangat gaduh oleh tawa anak-anak.

Pertunjukkan selanjutnya adalah Duet maut antara angga dan uki. Mereka tidak bertarung tetapi menyanyikan sebuah lagu. Angga yang memainkan gitar dan uki sebagai vokalisnya. Lagu yang dimainkan itu terdengar asing bagiku. Liriknya memang berbahasa Indonesia, hanya saja sama sekali belum pernah kudengar. Lagunya asyik, iramanya khas J-Rocks. dan belakangan setelah saya Tanya sama Uki, ternyata itu memang lagu milik J-Rocks yang berjudul PDKT. Liriknya seperti ini :

mungkinkah aku telah jatuh cinta
cinta pada pandangan yang pertama
karna sepertinya hatiku semakin berbunga
bisakah kudekat dengan dirimu
bisakah aku mencuri hatimu

Setelah lagu itu selesai, seseorang maba cewek memasuki arena. Sendirian ia merapal puisi-puisi. Sesekali ia menyanyikan sebuah lirik pendek. Saya lupa lirik itu tapi sangat menyentuh. Arshanty yang sempat mengenal lirik itu mengatakan bahwa lirik itu biasa dipakai dalam pembukaan sebuah teatrikal di pentas-pentas besar. Maba itu sangat menghayati perannya. Terkadang dia berdiri lalu tiba-tiba jatuh dengan sendirinya sambil berceloteh dengan kata-kata puitis. Lampu yang remang-remang sangat mendukung pertunjukannya ini.

Seorang maba lain kembali memasuki pentas. Jaket atau sweater yang digunakannya sewarna dengan topi di kepalanya. Seperti kupluk, hanya saja ukurannya lebih pendek dan sangat manis bertahta di rambut pendeknya. Kiranya Dia akan membawakan sebuah lagu, dengan iringan gitarnya yang dimainkannya sendiri. Lagu mulai mengalun. Lirik demi lirik keluar dari mulutnya dalam alunan suara yang sangat indah. Anak-anak kosmik mengikutinya secara pelan-pelan. Nada suara maba itu membawa kesedihan yang sangat dalam sesuai lirik lagu yang dibawakannya, terutama pada bagian reffrein dibawah ini :

Jujur, aku tak kuasa, saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun yang pasti terjadi, kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari
Ku temukan dirimu bahagia
Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita selamanya

Saya menanyakan judul lagu yang sedang dibawakan itu kepada ari, dengan sedikit berbisik dan mata tidak lepas pandangan dari maba itu ari memberitahuku : itu lagunya kerispatih, judulnya demi cinta. Kemudian ari kembali tenggelam dalam penghayatan lagu itu. Ketika lagu itu baru saja usai, MC memberitahu bahwa maba yang membawakan lagu itu masih dalam keadaan sakit, saya pun merasa sangat kagum kepadanya, saya tidak mengira akan sebagus itu dinyanyikan oleh seorang perempuan.

“Masih dalam acara persembahan nurani 2008!!” begitu sahut MC melanjutkan acara. “kali ini penampilan dari Feny bersama Rawe, dengan lagu sempurna!!” teriak MC dengan semangat. Feny memulai lagu ciptaan andra itu dengan indah sambil menunjuk-nunjuk Rawe, tiba di reff berdua mereka menyanyikannya secara bersamaan. Meski tanpa iringan gitar, lagu itu tetap terdengar indah. Apalagi penonton menyemangatinya dengan bertepuk tangan riuh rendah.

Malam semakin larut, acara berlanjut dengan penampilan terakhir dari semua maba dalam hentakan musik Project pop dalam lagu ayo goyang duyu!! Kiayi, bangsawan, dan 3 putrinya, sang dukun, rawe, feny, cewek bergitar tadi, semua bergoyang dengan gaduh menggetarkan lantai baruga hingga lagu berakhir.

Setiap acara tidak lengkap rasanya tanpa Doa penutup. Maka acara malam itu pun diakhiri dengan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa dengan syahdu, para maba kembali menyanyikan lagu mars kosmik. Bersama semua warga kosmik, lagu ciptaan bang pai itu kembali bergema.

Sebenarnya saya merasa ada yang sedikit berubah dari lagu baladika ini. Saya merasakannya terutama sejak angkatan 2005 masuk.

Di bagian reffnya yaitu pada lirik :

Kabarkan dunia raihlah semua, persingkat jarak dan waktu

Irama pada bait ini seharusnya tidak sama dengan irama pada bait selanjutnya.

Kalaupun lama walaupun jauh, Kita kan selalu menyatu

Namun menurut pendengaran saya sejak 2005 itu irama pada bait pertama reff itu terdengar sama seperti irama pada bait selanjutnya. Itu berlangsung sampai sekarang ini. Saya hanya masih bersyukur lagu itu tetap dinyanyikan dengan penuh semangat meski dingin juga membalut tak kalah hebatnya.

Lagu mars kosmik benar-benar menjadi penutup rangkaian mata acara malam itu. maba dipersilahkan kembali ke tempatnya, berisitirahat. Cuaca yang tidak memungkinkan kembali memaksa steering dan pengurus mengambil keputusan untuk tidak membiarkan maba tidur di tenda. Kak taro menginstruksikan kepada seluruh pendamping dan pengurus tetap tinggal di baruga karena ada briefing.

Baru beberapa menit kak taro mengevaluasi kegiatan nurani, tiba-tiba Bunyi kenderaan bermotor kembali terdengar meraung-raung dari arah pintu masuk lokasi nurani. Semua mata memandang kesana. Ada rombongan baru lagi yang datang. Ketika mendekat, kak arya (k 06) yang pertama kali kulihat diantara rombongan itu. Kemudian terdengar suara kak riza (k 99) , kak bento (k 02) , kak sahid (k 03) , dan kak acap (k 03). Kak riza yang memimpin rombongan sedikit bercerita bahwa mereka hamper tersesat di perjalanan karena ada berapa belokan, padahal informasi dari malakaji hanya ada satu belokan. Rombongan juga sempat singgah di rumah kak Lina (k 04) di jeneponto kota. seorang lainnya terlihat menaiki baruga, berbaju biru dan masih basah. Oh ..Itu kak jun (k 02). Dia menepati janjinya untuk datang. Pasti berjuang mati-matian untuk dapat sampai kemari. Kak jun mengatakan kalau mereka meninggalkan jeneponto ketika magrib. Dan hujan turun disepanjang perjalanan. Motornya rusak berat di rumah, jadi dia menumpang pada salah satu motor yang kosong. Bukan main perjuangan berat kak jun dan kakak-kakak senior ini hanya untuk ke menghadiri nurani. Beberapa orang maba kemudian membawa makanan khusus untuk rombongan terakhir ini ke atas baruga. Kakak-kakak itu pun makan dengan lahap dan duduk bersila di sekitarnya, meski dengan baju yang agak basah.

“AAAAA.!!!!!!!!” Teriakan panjang itu terdengar dari tempat maba. Bersama beberapa warga kosmik lain, saya menuju kesana. Lantai kotor karena Lumpur dan jejak kaki menyambut kami di pintu masuk. Saya melihat di beberapa sudut ruangan itu ada beberapa maba yang sakit sedang tidur di kelilingi temannya dan beberapa kakak senior. Di bagian terdekat dengan meja dari arah pintu masuk ini, seorang maba berjilbab sedang meronta-ronta di tahan oleh kak ruztan dan kak cokke. Anak itu sedang kesurupan. Penghuni-penghuni halus tempat ini pasti sedang marah. Maka lengkap sudah Bumbu nurani ini. Meskipun hal seperti ini menjadi pmandangan biasa dalam setiap acara nurani, tapi hati kami tetap diliputi cemas yang tak terkira.

Di bagian lain ada seorang maba yang sedang terengah-engah mencoba mengambil udara sebanyak-banyaknya. Dia kesulitan bernafas karena asma. Menurut kak wanto, sejak kemarin dia seperti itu. Eto’ namanya. AnakTBM (tim bantuan medis) fakultas kedokteran juga terlihat di situ memberi bantuan, di tangannya ada tabung oksigen kira-kira besarnya seukuran baygon semprot. Hampir satu jam Eto dalam kondisi seperti itu. Tim TBM meminta teman-temannya untuk menjaganya agar tetap hangat. 2 sleeping bag didatangkan, entah berapa selimut membungkus tubuhnya dari kaki hingga lehernnya.

Karena sudah larut, tim TBM mohon izin kepada kak irwan untuk berisitrahat seiring eto yang juga sudah mulai normal kembali nafasnya. Tetapi mereka tetap berpesan bahwa mereka selalu siap dipanggil jika ada apa-apa lagi. Kak irwan memaklumi hal ini.

Tak lama kemudian Asma Eto kambu lagi, Tim TBM secepatnya datang kembali memeriksanya. Kali ini salah seorang yang berambut keriting itu, menganjurkan agar salah satu maba tidur bersama eto dalam satu sleeping bag untuk mengalirkan hawa panas tubuhnya kepada eto. Nasihat ini dilaksanakan dan sangat manjur, nafas eto kembali normal dan badannya hangat kembali.

Sementara itu, maba yang kesurupan tadi telah tidur walaupun sesekali dia masih terjaga. Pak kahar sempat juga mengobati maba tersebut. Kini maba yang bernama eti itu, berbaring bersama teman-temannya sambil dijaga oleh kak ruztan, kak adri, kak roli, dan kak Om. Pak ketua kosmik kita masih lalu lalang, sesekali beliau duduk. Lalu berdiri lagi. sangat gelisah rupanya. Saya tidak bisa membayangkan betapa berat tanggung jawab seorang ketua di saat seperti ini. Mungkin karena lelah, kak irwan kembali duduk di samping eto!!

Tegel lantai ini terasa sangat dingin. Seperti basah kalau kita menyentuhnya. Agaknya hal ini yang menyebabkan angga susah utnuk tidur. Dari tadi dia gelisah, kakinya menyentuh langsung lantai itu. Karena kasihan kak irwan melihat hal ini, ia membangunkan angga lalu mempersilahkan untuk tidur di atas karpet dekat eto.

Saya yang berada tepat di depan mereka jadi terharu, melihat itu semua. Kak irwan juga mempersilahkan saya untuk segera tidur.  “Tidur mi ki, capek ki itu” katanya dengan tulus. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Saya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi besok.. Mata saya terasa sangat berat, lalu semua gelap.

(Bersambung)

Kisah

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Nurani 2008, dari malakaji turun ke hati #5”

Leave a Reply