Nurani 2008, dari malakaji turun ke hati #6
Nurani 2008, dari malakaji turun ke hati (hari ketiga)
(Sabtu, 17 januari 2009)
- malakaji, gowa -
Rasanya lagu “kepompong” milik sindentosca dinyanyikan sejak semalam suntuk sampai pagi ini. Karena ketika baru saja bangun dan melipat sarung yang diselimutkan entah oleh siapa di tubuh saya, lagu itu kembali terdengar dari arah dapur. Ah mungkin saya masih bermimpi. Ternyata tidak. Senandung itu terus terdengar, saya pun penasaran dan segera menuju beranda dapur. Terlihat disana Kak Himas sedang mendendangkan lagu itu. Di depan tungku api dengan kayu seadanya sambil menghangatkan tubuh ia terus bernyanyi. Hanya saja beberapa liriknya terdengar beda tetapi masih dengan nada awal pada lagu kepompong. Kira-kira seperti ini yang sempat saya tangkap :
Kini ku pakai Excel
Karena sinyalnya kuat
Mengalahkan sinyal Mentari
Mendengar itu seseorang lainnya yang kebetulan ada disitu spontan tertawa. Dia masih berdiri memegang botol sirop kecil dengan sendok putih di tangannya. Niatnya minum obat jadi terhenti. Ternyata itu si gadis berjilbab. Pagi ini dia bangun lebih pagi. Saya mengambil tempat duduk disebuah bangku kecil disudut dapur itu. Dia pun ikut duduk disebelahku. Dia mengeluh tentang udara dingin di tempat ini, becek yang mengotori dan sandalnya yang sejak kemarin tak tahu kemana rimbanya. Tetapi ia juga bersyukur, karena tak ada panas yang menyengat dan segarnya angin pegunungan. Dia pun bebas bermain di genangan air yang ada dan tentunya dengan teman-temannya makan bersama serta tidur rame-rame. Sesuatu yang jarang dia dapatkan di kota.
Gadis berjilbab bercerita, di makassar dia tinggal di rumah sewa. Di daerah wessabbe tepatnya. Bersama beberapa orang keluarganya yang juga kuliah di unhas, hanya lain fakultas. Kami ternyata mempunyai nama belakang yang sama. Saya memang sempat mendengar namanya sebelum nurani ini. Tetapi baru sekarang saya bertemu dengannya. Berjarak hanya 2 cm di sampingku. Dia menuangkan sirup di sendok putihnya kemudian meminumnya. Katanya itu obat buat penyakitnya. Tetapi ia tak menceritakan lebih lanjut tentang sakit apa yang dideritanya. Saya pun enggan untuk menanyakannya. Hari ini si gadis berjilbab termasuk petugas memasak di dapur. Dia kemudian beranjak mengambil keranjang kecil berisi bawang merah lalu mengupasnya bersama seorang temannya.
Seseorang dari dalam berteriak dalam nada yang khas : “assalamualaikum..!!” Oh Itu si Rahma, anak 2007. Pembawaannya memang selalu ceria dan ceplas ceplos. Asalnya dari Jakarta. Sewaktu masih maba dulu ia belum berjilbab. Rambutnya yang ikal dengan sedikit poni anehnya menambah kesan lucu dalam dirinya. Kini dia setelah berjilbab, dia tampak lebih anggun. Tetapi masih dengan gaya yang sama. Sedikit metal dan ribut. Meskipun begitu, dia Jago menggambar dan saat ini sedang mendalami fotografi. Sewaktu hari wisuda kemarin, saya dihadiahi sebuah lukisan. Lukisan diri saya. Rahma membuat lukisan diriku itu dengan pensil seadanya. Tak berwarna namun sangat indah. Lukisan itu kini terpampang di kamar pondokan telaga safar. Rahma menanyakan dimana saya tidur tadi malam. Lalu kami mengobrol seadanya.
Di udara dingin dan dalam bayangan mendung terus menerus seperti itu, waktu tidak dapat ditebak. Saya menuju mesjid untuk mencari air, siapa tahu bisa mandi pagi. Ternyata disana telah ada beberapa orang sedang mengantri di satu-satunya kamar mandi di mesjid itu. Kak Arya yang tiba semalam bersama rombongan kak riza juga ada disitu. Tidak lama, rahma dan yuga juga datang. Sesekali kak arya bercerita dengan lelucon-lelucon segar tentang perjalanannnya kemarin yang membuat kami tertawa.
Halaman mesjid ini ditumbuhi beberapa jenis bunga. Saya hanya mengenali salah satunya. Bunga itu biasa menjadi symbol ungkapan perasaan cinta seseorang. Dalam pelajaran semiotik, bunga ini biasa yang digunakan menjadi sebagai contoh dalam mengandaikan sesuatu. Salah seorang ahli semiotik, Umberto Eco, juga memakai bunga ini sebagai judul salah satu novelnya yang sangat terkenal. “The name of the rose”. Bunga mawar ini mempunyai ukuran kelopak agak besar dibanding dengan mawar di kota. Karena berada di daerah pegunungan seperti ini, Orang menyebutnya “mawar gunung”. Di daerah dingin seperti ini mereka bisa tumbuh subur. Saya tak tahu apabila di bawa pulang untuk di tanam di makassar nanti apakah bisa tumbuh atau tidak.
Matahari tidak pernah kelihatan sejak kemarin. Tetapi arah jarum jam dapat membantu menunjukkan waktu apakah itu masih pagi, siang ataupun sudah sore. Karenanya warga kosmik dapat menentukan kapan memasak, wisata biro, sholat, dll. Kecuali waktu tidur, rupanya tidur di tempat dengan cuaca seperti ini tidak mengenal waktu. Beberapa orang masih terlihat tertidur di tenda yang terletak di beranda mesjid ketika saya melewatinya tadi. Mungkin mereka ini yang begadang semalam untuk menjaga keamanan.
Saya kembali ke beranda dapur dan mendapati kak munir sedang duduk bersama amroses dan himas. Beberapa Maba sedang sibuk memasak. Biasanya ketika waktu memasak pagi seperti ini, si gadis pirang selalu hadir. Tapi kali ini ia tak ada disana. Menurut gadis berjilbab, dia di kamar menemani temannya yang sedang sakit. Katanya lagi gadis pirang juga kurang enak badan.
Dari dalam dapur, debra muncul lagi. Dia selalu tertawa duluan kalau melihat orang yang dikenalinya. Debra mendekat. Saya menanyakan kemana teman-teman lain, biasanya dia bersama arshanty, ari, isal, dll. Katanya, beberapa temannya telah pulang pagi tadi. Dan itu termasuk isal, arshanty, noe, dan masih ada beberapa orang lagi. Mungkin mereka sedang ada keperluan mendadak jadi pulang duluan.
Salah satu hal yang susah untuk ditunda adalah makan. Apalagi dinginnya udara mampu mempercepat perut terasa lapar. Maka ketika makanan sudah masak semua, saya dan beberapa orang di beranda dapur itu langsung meminta jatah makan. Makanan pun di bagikan Debra ikut makan disitu. Si gadis berjilbab juga bergabung bersama kami. Beberapa maba di dekat situ makan di dalam satu piring nasi. “ndak sempat ambil lagi kak.., sudah lapar mi. Lagian kapan lagi seperti ini..?” begitu katanya ketika kak munir bertanya kenapa makan sama-sama di satu piring seperti itu. Biarlah, toh keadaan seperti ini yang menjadi momen-momen awal kebersamaan diantara mereka.
Sekitar satu jam setelah makan siang itu, terdengar dari arah baruga suara mbak siska melalui pengeras suara sedang memanggil-manggil. “saksikanlah..!! Saksikanlah…!!! kepada bapak-bapak, ibu-ibu, adek-adek, kakak-kakak warga malakaji yang ada di sekitar baruga. Saksikanlah pertunjukan yang spektakuler dari anak-anak kosmik…!!” suara mbak menggelegar dengan hebatnya. Sekali lagi bersama medok jawanya. Pertunjukkan yang dimaksud mbak sebenarnya adalah pameran sekaligus lomba majalah dinding. Pesertanya tentu saja adalah maba. Mading-mading itu dibuat berdasarkan kelompok yang telah dibentuk.
Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai berdatangan. Kak riza, kak madi, kak jun, kak yudha, kak taro, dan kanda-kanda lain ikut menyaksikan pameran mading itu. Kelompok peserta pameran mading mengusung tema yang berbeda-beda. Dengan menyesuaikan tema yang ada, maka bentuk mading itu pun beraneka ragam. Tidak sekedar segiempat atau pun persegi panjang. Ada yang berbentuk pajangan kacamata yang bisa diputar-putar, dan ada juga yang berwujud kapal phinisi lengkap dengan tiang-tiang dan tali-talinya. Tema yang diangkat pun beragam. Ada yang mengangkat tema “gamesâ€. Yaitu mengenai kontrasnya permainan anak-anak masa kini dan masa lalu. Seperti Playstation dan bermain gundu atau gobak sodor. Tema lainnya yang tak kalah menarik tentu saja mengenai fashion. Lalu ada juga menyinggung masalah perpolitikan di Indonesia menjelang pemilu yang akhirnya dimenangkan oleh mading dengan tema politik tadi. Penjurian dilakukan oleh kak taro dan kak madi atas mandat yang diberikan Pembina juri pada lomba itu yaitu kak darma (k04) yang tak sempat hadir. Acara penyerahan hadiah kepada pemenang menjadi puncak acara siang itu, diikuti sepatah kata dari tim juri dan perwakilan dari kelompok pemenang.
Hujan kembali mengguyur malakaji. Seorang maba membawakan sepiring songkolo’ kepada kak taro. Diikuti kepada kakak-kakak lainnya. Lalu semua yang hadir menikmati hidangan songkolo’ hangat di tengah derasnya hujan turun. Sebagian maba kembali ke tempat mereka setelah membereskan mading-mading itu. Sebagian mading masih terpampang disitu. Saya masih sempat melihat-lihatnya satu persatu. Karya maba-maba itu terbilang sangat bagus, meski ada beberapa aspek teknis yang perlu sedikit diperbaiki.
Redanya hujan kembali membawa keindahan. Titik-titik air bekas hujan yang jatuh di daun-daun serta rumput lokasi nurani 2008 ini sangat menyegarkan. Sesegar sore yang mulai menjelang dengan angin bertiup pelan mendukung perasaan kami untuk melihat dunia luar sana. Bersama jun saya melangkah menuju lapangan yang telah dipenuhi warga kosmik. Ada yang membawa bola kemudian memainkannya di tengah lapangan. Kak patang terlihat juga diantara mereka bermain dengan semangatnya. Di sudut lain Beberapa cewek-cewek kosmik sedang berpose dengan gaya masing-masing bak model professional. Tapi saya yakin dengan berbagai pose yang di coba, hasilnya tetap bagus dan cantik. Karena mereka cewek-cewek kosmik. bahkan untuk pose melompat bersamaan sekalipun. Sekali lagi karena mereka anak kosmik…!!!
Saya mengikuti rombongan kak arya dan kawan-kawan yang berencana pergi melihat air terjun. Kabarnya letak air terjun itu tidak jauh dari lapangan. Kata warga setempat jarajnya hanya sekitar satu kilometer lebih. Saya hanya berdoa semoga kata “hanya” menurut orang kampung ini benar-benar dekat. Karena selama ini menurut mereka dekat, tapi kenyataanya jauh minta ampun. Saya trauma waktu KKN dulu pada perihal penunjukkan jarak seperti ini.
Perjalanan pun dimulai. Kak riza tadinya di ajak untuk ikut, tetapi kak riza tidak mau. Jadilah rombongan kami terdiri dari saya, kak jun, kak arya, kak othe, kak ira, kak ari, kak yudha, bersama sebagian cewek-cewek yang berfoto-foto tadi mulai menapaki alam malakaji yang menanjak dan berlumpur. Kak jun yang membawa kamera sesekali membidikkannya mengabadikan perjuangan kami menuju air terjun itu.
Sekitar sepuluh menit kami berjalan, kami mendapati rombonga lain yang rupanya sudah mendahului mencapai air terjun itu. Tapi setelah berbagi informasi dengan mereka ternyata tidak ada air terjun di atas. Yang ada hanyalah jembatan dan air deras mengalir di depannya. Mungkin itu yang dimaksud warga dengan air terjun. Untuk mengobati kekecewaan kami, yang telah berjalan sejauh setengah perjalanan ini, maka kami memutuskan meneruskan saja perjalanan. Setidaknya kita bisa foto-foto nanti dengan pemandangan alam yang berbeda. Toh jembatan yang diceritakan itu pasti tampak lain dari biasanya terutama dipegunungan seperti ini.
Kami pun meneruskan perjalanan. Kebun-kebun jagung banyak menghiasi disisi kiri kami. Sementara di sisi kananya di dominasi oleh hamparan sawah. Kadang ada juga lahan kosong yang belum di tanami. Jalanan yang tadinya berbecek kini mulai berbatu.. Batu-batu itu menusuk-nusuk sehingga saya harus memilih-milih jalan mana yang harus saya lalui karena saya tidak memakai sandal.
Pemandangan di depan mulai berubah. Rimbunnya pohon-pohon mulai menutupi penglihatan kami terhadap langit. Di belokan berikut, akhirnya kami tiba di jembatan yang dimaksud. Air yang mengalir di bawah jembatan itu memang sangat deras dan meluncur ke bawah. Suaranya terdengar sangat keras. Kak yudha dan kak arya memutuskan untuk mandi disitu. Dinginya air terasa dari atas sini. Saya hanya memperhatikan mereka dari jauh, walaupun ada keinginan untuk turun juga menyegarkan badan.
Jembatan itu berujung pada jalanan dengan sebuah tikungan yang menanjak. Saya mencoba menelusri ke mana arah jalan itu dan membawa saya bertemu dengan seorang pemuda desa yang membawa seekor kuda. Saya menanyakan perihal air terjun. Lalu katanya masih jauh ke atas, kemudian dia pun meneruskan perjalanannya. Saya kembali ke rombongan dan mendapati kak yudha serta ka arya baru saja selesai mandi dan siap-siap akan pulang. Sebelum pulang, sekali lagi anak-anak mengabadikan momen itu dengan kamera.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan karena jalannya yang menurun. Ketika tiba di persimpangan tempat pertemuan kami dengan rombongan sebelumnya, kami berbelok menuju jalan lain. Tidak melalui jalan yang pertama kami lalui. Jalan itu membawa rombongan melalui jalan beraspal. Sehingga perjalanan pulang kami ini akan memutar. Rombongan juga sempat cuci kaki di rumah warga dan makan bakso yang lewat di pinggir jalan.
Lelah selalu terasa pada akhirnya. Ketika mendapati mesjid, saya kembali mencuci kaki. Becek disini memang sudah biasa. Saya menuju dapur. Dari arah tempat maba, Beberapa orang terlihat memegang bibit pohon dalam kantung plastik hitam. Yang lainnya membawa sekop dan linggis. Mereka menuju kearah lapangan. Kemudian menyebar kebeberapa arah. Tanah digali, kemudian bibit-bibit pohon itu ditanam. Selanjutnya foto-foto lagi. Kegiatan-kegiatan seperti ini memang sangat bermanfaat guna menjaga kelestarianalam di masa mendatang sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka kepada bumi yang semakin menua. Saya semakin salut sama anak-anak kosmik.
(Bersambung)









Bagi teman-teman warga KOSMIK yang ingin karyanya di tampilkan di website ini, hubungi tim website atau koordinator CCC (Communication Cyber Club)
If you like what we do, please don't hestitate and subscribe to our