SPECIAL INTERVIEW with RIRI RIZA
Baruga : ”Apakah hal ini bisa dilihat dari contoh-contoh film yang beredar sekarang, yang hanya lebih banyak mengangkat tentang seks dan komedi. Sehingga kita tidak bisa berharap terlalu tinggi untuk kualitas film Indonesia yang lebih baik?”

Riri Riza : ”Saya pikir harapan targetnya harus tetap tinggi kita tetap harus memberikan support terhadap orang-orang yang bisa membuat film dengan upaya-upaya yang lebih serius untuk nuansa yang berbeda. Tapi pada saat yang sama memang kalau ada film-film yang kita nilai buruk, repetitif, berulang-ulang, menggunakan peran yang sama terus-menerus, saya sya pikir yang harus kita lakukan adalah mengkritisinya dengan baik. Misalkan dengan teman-teman (mahasiswa) harus mencoba menulis review. Siapa tahu dengan review itu kemudian bisa menjadi penting buat masyarakat Makassar khususnya. Sehingga lain kali kalau misalnya si A menulis bahwa film ini kurang baik, itu bisa dijadikan patokan bagi publik bahwa film ini bisa tidak ditonton.”
Baruga : ”Untuk mengukur kualitas sebuah film, apakah si pembuat film sudah harus menentukannya atau masyarakat sendiri yang harus bisa belajar dalam arti punya media literacy untuk itu?”
Riri Riza : ”Isu Media Literacy itu saya sangat setuju. Bahwa masyarakat seharusnya bisa menentukan baik atau tidak baik atau tepat atau tidaknya buat dia. Jadi, masyarakat sebenarnya berdaya untuk memutuskan tidak menonton film itu.”
Baruga : ”Misalkan kita ingin membuat riset tentang film dan modal tersebut berasal dari negara lain bukan dari pemerintah Indonesia. Apakah mereka juga turut berpengaruh pada konsep film yang akan kita buat?”
Riri Riza : ”Itu yang perlu dipikirkan bahwa dalam waktu ke waktu dia akan berpengaruh. Tapi sebenarnya yang kuat pengaruhnya adalah dari film-film yang diimpor dari Amerika. Kalau kita mengamati film-film dari Eropa, mereka mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dari film Hollywood dan mereka juga mati-matian bersaing dengan film Amerika. Karena itulah Eropa kadang–kadang punya kepentingan untuk mendukung para pembuat film dari Asia,Afrika dan Amerika Latin supaya mereka bisa membuat film yang agak beragam. Menurut saya ini memang adalah ”perang” kepentingan, karena biar bagaimanapun dunia ini sedang gelisah melihat pengaruh Hollywood yang begitu kuat di negara-negara Asia dan Afrika. Kalau ada usaha yang besar untuk men-support film-film yang dianggap tidak hanya mengulang-ulang tren.”
Baruga : ”Apakah untuk mendapatkan biaya atau modal dalam riset tersebut, film yang dibuat harus mengangakat satu topik penting misalnya tentang pendidikan atau lainnya?”
Riri riza : ”Biasanya mereka (si pemilik modal) akan melihat apa inti publikasi dari konsep yang akan difilmkan ini terhadap Indonesia. Jadi patokan mereka justru Indonesia. Mereka tidak melihat buat negaranya. Tidak. Tapi melihat film ini maknanya apa terhadap Indonesia sendiri. Itu yang biasanya menjadi bahan pertimbangan utama.
Baruga : ”Apakah kehadiran film Indonesia yang sarat akan bau pendidikan sangat penting meurut anda?”
Riri riza : ”Saya rasa begini, penting tapi harusnya dia menjadi sesuatu yang sesuai dengan bagaimana film bisa bekerja dalam konteksnya. Ketika film kemudian menjadi dakwah dalam pendidikan, isinya cuma tentang guru yang berjuang, tanpa ada dramanya itu berari tidak bekerja sesuai konteksnya. Biasanya yang membuat kita ingin menonton bukan pesannya tapi karena cerita atau plot di dalamnya.”
Baruga : ”Bicara tentang film dan dunia pendidikan Indonesia sejauh mana anda melihat kontribusi dari para pembuat film terhadap pendidikan kita?”
Riri Riza : ”Kalau saya pikir bagaimana bisa film Indonesia mempunyai kontribusi memang sangat tergantung dari apa yang menjadi motivasi di belakangnya. Ketika kita memiliki gagasan-gagasan yang yang berkaitan dengan nilai pendidikan, kita juga dihadapkan pada satu tantangan yang berat. Bagaimana kita bisa membuatnya supaya menarik bagi pasar. Bagaimana membuatnya cukup menjadi sesuatu yang populer. Yang penting adalah bagaimana kita bisa menguasai medium tersebut. Ada satu contoh Nagabonar misalnya, bagi sebagian penonoton itu menarik karena kita bisa ketawa-ketawa kemudian menangkap sesuatu. Begitulah sebuah film pendidikan yang baik bekerja. Kita bisa menangis, tertawa tapi pada saat yang sama akhirnya kita mendapat sebuah pesan.”
Baruga : ”Bicara tentang film Indonesia yang berbau pendidikan, tidak terlepas dari the next project anda yaitu Laskar Pelangi yang disadur dari novel best seller karya Andrea Hirata, bagaimana sih sampai anda bisa mendapatkan proyek ini dan menjadi sutradaranya?”
Riri Riza : ”Mungkin itu karena pertemanan juga. Andrea pada saat selesai cetakan pertama dia langsung mengirimkan pada saya. Meminta saya membacanya kemudian memberi komentar. Lalu kita ketemu dan ngobrol-ngobrol terus dia bertanya ”bagaimana kalau dibikin film?”. Jadi kalau proses saya dengan Laskar Pelangi ini mungkin agak berbeda dengan konsep industrial biasa. Dimulanya itu dari sebuah proses yang agak ”respect individual”. Dan ketika saya membaca novel tersebut mengingatkan saya pada novel Toto Cham dari Jepang.”
Baruga : “Kenapa anda mau menyutradarai film ini mengingat Laskar Pelangi mengambil setting di daerah Belitong yang terpencil dan miskin masyarakatnya. Otomatis akan berat juga tantanganya kan?”
Riri Riza : “Saya selalu mencari apa yang belum pernah dibuat atau membuat bagaimana film saya menjadi unik. Disamping itu, ini adalah sebuah cerita yang sangat menarik tentang idealisme tapi pada saat yang sama tentang kebingungan juga, ditambah saya suka pergi-pergi. Dan mengenai Belitong pada saat membaca novelnya dalam imajinasi saya pasti menarik ternyata waktu sampai di sana terbukti memang daerah itu sangat menarik. Kebetulan juga belum ada novel dari Makassar yang bagus.”
Baruga : ”Sejauh mana usaha atau proses penggarapan film ini yang telah anda lakukan?”
Riri Riza : ”Saya bersama produser (Mira Lesmana) dan scripwriter sudah menulis skenarionya dari bulan Maret tahun lalu jadi sudah setahun lebih dan bulan Desember kemarin sudah rampung. InsyaAllah kita akan masuk tahap persiapan dan tanggal 26 Mei 2008 sudah mulai shooting.”
Baruga : ”Jadi, para cast atau pemain-paemainnya juga sudah siap?”
Riri Riza : ”Ya sudah, semuanya anak Belitong asli. Jadi kesepuluh anak yang tergabung dalam Laskar Pelangi itu adalah pemain-pemain murni dan baru pertama kali main film.”
Baruga : ”Baik kita tunggu saja filmnya. Sedikit menyinggung tentang Lembaga Sensor Film (LSF) yang notabene behubungan langsung dengan film dan sempat terjadi perselisihan antara LSF dengan Masyarakat Film Indonesia (MFI) apa tanggapan anda?”
Riri Riza : ”LSF itu punya kekuasaan, jadi kalau sebuah film tidak melewati LSF otomatis film itu tidak bisa ditonton. Intinya begini, MFI sebenaranya tidak berselisih dengan LSF. Kita Cuma ingin mencari solusi agar bagaimana perfilman Indonesia saat ini bisa berjalan sesuai kesepakatan bersama. Dalam hal ini kesepakatan kita itu adalah UUD 1945 bukan Al-Qur’an atau Hadits. Sekarang setelah kita membaca-baca dan melihat lagi UU Perfilman yang dimuat dalam Peraturan pemerintah, itu tidak sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam kesepakatan tertinggi kita yakni UUD 45 tadi. Dalam perjanjian tertinggi ini dilindungi kemerdekaan dan kebebasan setiap orang untuk memperoleh, mengolah dan mendistribusikan informasi.”
Baruga : ”Pertanyaan terakhir apa harapan anda sebagai sineas muda bangsa terhadap perfilman Indonesia kini dan akan datang?”
Riri Riza : ”Harapan saya mudah-mudahan, sebagai pembuat film saya ingin agar orang yang menonton film saya jangan cuma marah dan kesal karena menurut mereka film Indonesia belum ada yang sesuai harapan tapi mereka juga bisa merasa senang, bisa memuji, dan bisa bangga terhadap perfilman Indonesia.”
Ditulis oleh Nur Januarita Benu









Bagi teman-teman warga KOSMIK yang ingin karyanya di tampilkan di website ini, hubungi tim website atau koordinator CCC (Communication Cyber Club)
If you like what we do, please don't hestitate and subscribe to our