Tetes Embun…
Hujan kali ini terasa begitu berbeda, entah mengapa bukan lagi rasa dingin yang menembus kulit melainkan sebuah bara api yang perlahan tapi pasti semakin membesar. Jenis perasaan apa yang berkecamuk di dalam dada hingga seolah-olah hendak merobek dada, menghantam jantung serta meledakkan seluruh pembuluh darah.
Keringat masih terus mengucur, tetesan bulirannya seakan perwakilan satu kata hingga menyusun sebuah kalimat. Ada apa ini ? Apakah ada sebuah janji, utang, pekerjaan, ataukah nazar yang belum terlaksana hingga membuat alur perasaan tak menentu ? Sementara, sang angin terus bertiup dan hujan pun tetap berlanjut. Suara tetesan air hujan terdengar nyaring bahkan suara liukan dedaunan tertiup angin juga turut kedengaran. Tetapi ada yang aneh, masih ada suara serak yang terdengar namun dengan grafik yang timbul tenggelam.Ya, terdengar lagi jauh di bawah sebuah tumpukan, suara rintihan miris.
Pacuan adrenalin meninggi, ketakutan, kecemasan akan hal apa yang akan terjadi namun rasa keingintahuan mengalahkan segalanya, pencarian asal suara rintihan pun dilakukan. Dengan lidah kelu, bibir dan wajah yang pucat serta sekujur tubuh gemetaran satu persatu benda yang bertumpuk disingkirkan, ternyata suara rintihan semakin jelas terdengar.
Kini, seluruh kekuatan telah benar-benar hilang dan bukannya ketakutan yang datang tapi rasa bersalah yang bertahta setelah melihat asal rintihan itu. Bagaimana tidak ? ternyata yang merintih adalah lembaran kertas kosong yang hampir usang saking tak pernah terjamah. Ya, lembaran-lembaran yang selama ini terlupakan padahal ia adalah perekat keluarga kami, keluarga Korps Mahasiswa Ilmu komunikasi ( KOSMIK ). Perekat yang bagaikan intan berlian, dimana didalamnya ada segudang inspirasi, ilmu yang menggunung serta tautan benang merah seluruh warga KOSMIK. Perekat yang bersalin nama menjadi Baruga, sebuah majalah yang lebih dari sekedar lembaran kertas bagi kami. Entah apa yang membuat kami sedikit menjauh darinya, apakah kesibukan di bangku kuliah, kegiatan mengejar karir di luar sana, ataukah kelihaian bersilat lidah dengan ribuan teori hampir menjadikan kita mandul akan karya ? Tetapi, apapun itu harus diingat bahwa “praktek tanpa teori adalah hampa dan teori tanpa praktek adalah kosong” ( Viktor Sosang ). Seharusnya inilah prinsip pegangan kita, karena kita telah mendapatkan banyak teori dan Baruga adalah tempat kita mempraktekkan teori itu, jangan sampai teori membuat kita sekedar pandai berucap dan akhirnya terlena.

Hujan telah reda tetapi sisa bulirnya menjadi tetesan embun di pagi hari, tetesan inilah yang merembes hingga jatuh tepat mengenai pejaman bola mata. Akhirnya, membuat kami terbangun dari buaian sang mimpi. Perlahan mata mulai terbuka dan melihat ada seulas senyum yang tampak di wajah Baruga kami, seolah ada sorakan gembira menyambut bangkitnya kembali semangat untuk berkarya dengan pena.
Kini, kami sadar bahwa perasaan seakan dikejar sesuatu bukan karena utang, janji, pekerjaan atau nazar melainkan sebuah tanggung jawab yang tidak boleh tidak dilakukan yaitu kembali menghadirkan Majalah baruga ditengah-tengah kita.Terima kasih untuk setetes embun yang telah menjadi penawar mati suri kami, kami berjanji akan mengubah tetesan embun itu menjadi goresan tinta di atas lembaran Baruga, perpaduan kata dan mata hati kami.
Mata Atoda ! ! !
Darmawati
Redaksi
- dari Majalah Baruga Edisi 16 -









Bagi teman-teman warga KOSMIK yang ingin karyanya di tampilkan di website ini, hubungi tim website atau koordinator CCC (Communication Cyber Club)
If you like what we do, please don't hestitate and subscribe to our