Kesetiaan di Tepi Purnama Pulau Cangke

Apr 13, 2008 No Comments by admin

sa406146

Ini bukan komedi, ini puisi
Ini bukan hanya hitam diatas putih, ini seni
Ini bukan hanya guratan-guratan biasa, ini harmoni
Disana rindukuku disemai pak petani
Disana laguku mengalun bersama pekik selamat pagi
Disana hatiku dirampas putri asia yang sedang menari.
Terserah gundik semesta berkata apa
Yang pasti aku mencintainya
Sudah lama… sudah sangat lama………!!

Mungkin lembaran ini hanya mengisi kekosongan waktu pembaca sekalian, atau mungkin pula hanya jadi debu yang akan berhembus dalam angin masa lalu, dan ia akan hilang lenyap oleh jaman, terkikis oleh terpa debur ombak kebudayaan yang terus berevolusi, hingga ia akan terus terbang tinggi ke nirwana, melambai dan pergi tinggalkan yang bukan dirinya.

Sebuah cerita, tentang Kesetiaan………..

Di sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan lepas. Pohon cemara tumbuh sempurna di atas pasir, menari indah terhembus semilir angin. ikan-ikan karang bermain-main di antara lautan luas. Bintang laut menerangi pesisir dengan diam. Sementara kami, menemani bulan dengan lantunan lagu-lagu kebebasan.

Pulau yang tegak menghadang lautan lepas ini menyimpan sebuah cerita kehidupan. Tentang sepasang manusia yang teguh menjaga nilai kesetiaan. Hanya mereka yang hidup selama 32 tahun dipulau ini. Kisah Dg abu dan Sitti maidah. Sebuah pelajaran kehidupan yang berharga tentang sebuah adaptasi manusia terhadap alam (lautan), terhadap nilai sebuah keluarga, terhadap nilai-nilai dasar manusia. Antara kasih sayang, perhatian, kesetiaan, tanggung jawab, bahkan cinta.

Kisah mereka dimulai pada saat Dg Abu menderita penyakit kusta pada tahun 1972. saat itu Sitti Maidah sudah menjadi pendamping hidupnya. Mereka bertempat tinggal di Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Pada masa itu, Dg Abu masih berumur 20-an, ia masih sangat muda, begitu pula Sitti Maidah. Pada saat kami datang kesana, sempat sesekali ia menirukan bahasa nippon (jepang) kepada kami semua untuk menunjukkan jaman kehidupannya pada saat ia masih berhubungan dengan masyarakat. bersama dengan itu renyahnya tawa kami semua meledak, meruap-ruap diatas pasir, lalu teredam cepat disapu angin laut yang entah dari arah mana.

Masyarakat pada waktu itu menganggap bahwa kusta adalah penyakit kutukan. Kusta diibaratkan sebagai sebuah azab dari Tuhan terhadap kelalaian manusia. Bahkan lebih kejamnya lagi seseorang yang menderita penyakit ini dianggap sebagai seorang pendosa kelas berat layaknya pemerkosa atau perompak kejam di lautan. Walhasil, Dg Abu diasingkan ke sebuah pulau tak berpenghuni. Yang konon, di pulau tersebutlah dahulu orang-orang yang dianggap “kena kutukan” dibuang dan diasingkan masyarakat.

Cangke. Nama sebuah dataran yang tidak terlalu luas. Mungkin hanya sebesar setengah lapangan sepak bola atau mungkin juga hanya muat 10 rumah tipe 21, itupun padat. Di tengahnya dipenuhi pohon-pohon cemara yang cukup rindang, pasir mutiara yang halus dan memutih sempurna melingkarinya bagai cincin. Setelahnya, karang-karang ditemani bintang laut– biru, anemon, dan landak laut hitam disiang hari, sementara dimalam hari ikan-ikan karang berhenti sejenak untuk tidur dalam damai, terkulai lemas dalam arus terumbu karang yang tertutup air pasang. Lebih dari itu, hanya biru yang makin keluar makin menghitam. Kelam.

dahulu kala, setelah “hukuman” ditegakkan. Berangkatlah Dg Abu ke pulau tak bertuan itu. Tetapi ia tak sendiri, Sitti Maidah ikut pula menemaninya.

Ditahun-tahun pertama, mereka melalui masa-masa yang sangat sulit. Bayangkan saja, di pulau ini tidak ada air tawar, tidak ada listrik, dan bahkan untuk menanam sayuran pun tidak bisa karena tidak ada tanah, hanya pasir yang tertutup rerumputan liar.

Mereka bertahan dengan mencari ikan dan menjualnya secara barter dengan keperluan rumah tangga, makanan dan air bersih kepada nelayan-nelayan yang kadang singgah beristirahat setelah selesai berlayar mencari cumi-cumi atau ikan. Atau saat datang seorang dokter dari pulau sebelah yang mengobati penyakit Dg Abu. Tampaknya, sekarang ia pun sudah sembuh total. Walau penyakit itu masih menyisakan bekas luka di jari-jarinya, dan (Allahu a’lam) pula luka dalam kenangannya bersama keluarga yang ia tinggalkan dahulu.

3242

Selama 30 tahun mereka tinggal di sebuah gubuk yang hanya muat untuk mereka berdua. Baru 3 tahun terakhir setelah anak mereka besar dan mapan di pulau Palla (sebelah utara pulau cangke), merekapun dibuatkan semacam pemondokan sederhana. Tetapi, tak lama setelah itu Dg Abu terserang kebutaan saat ia menyelam di dasar laut.

Kini tinggal Sitti Maidah dan anaknya, yang pula harus menghidupi keluarganya dipulau Palla. Sang anak sampai sekarang, hampir setiap sore dengan penghasilannya yang pas-pasan, menyisihkan sebagian penjualan ikan untuk membelikan kebutuhan ayahanda dan ibunda tercinta di pulau Cangke ini. Tapi itupun masih tergantung tangkapan.

sa406126email

Merasa ada yang kurang dari dirinya. Setelah setiap hari selama 30 tahun mereka menjalankan hampir semua ritual bersama. Sitti Maidah, sosok wanita tua dengan rambut mulai memutih, dan dari matanya yang tajam menerjang-nerjang alam. membuat 2 rakit dengan tangannya. Untuk sekedar mencari ikan ditengah lautan, agar Dg Abu bisa ikut mendayung sementara ia duduk memancing kala malam.

Kini, mereka masih hidup bahagia dengan lautan. berdampingan saling menjaga. Oh…. Mungkin terlupakan ada sajak yang tercipta kala malam (19/08/05);

Untuk mu adinda, yang akan datang kemudian
ku sudahi raguku di penjara penantian
agar setidaknya, kau terima mawar hitam yang ku petik dari lautan
dan sekembaliku dari tempat tak bertuan, ia akan berbuah kesetiaan
menemani rona-rona dibalik lesung mu, yang tumbuh diawal perjumpaan

***

Saat itu malam terakhir kami berada disini. Sebuah ekspedisi yang mulanya hanya untuk memenuhi tuntutan proposal ternyata membawa kami lebih jauh di dalamnya sebuah nilai-nilai kemanusian yang sudah susah kami temui di kota.

Purnama makin terang. Menguning di antara hitam. Terjaga di atas cahaya-cahaya yang membintang dari pulau Pala. Di depan perapian, suara nyanyian kami menggema di antara malam. sibuk sendiri pula angin mengaum-ngaum tunjukkan kebesaran lautan. kopi hitam pekat terangkat bersama, aku beranjak berdiri mendekat keperapian dan membayangkan seseorang yang jauh disana seraya berkata; “SELAMAT MALAM KESETIAAN………..”

sa406214-email2

Writed at d moment . June 2004
Ilham.F (de.Vozquea)
Kawan Laba-laba
Mantan Mahasiswa Jurnalistik Jurusan Il. Komunikasi–2001
Pengurus besar HIMACAS (HImpunan Mahasiswa Cacat ASmara)

GCC

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Kesetiaan di Tepi Purnama Pulau Cangke”

Leave a Reply